TREN.BISNISMARKET.COM - Pasar komputer portabel di Indonesia dan global kini tengah bersiap menyambut inovasi baru yang berfokus pada keterjangkauan dan efisiensi energi. Qualcomm secara resmi meluncurkan komponen terbarunya yang diberi nama komersial Snapdragon C.

Chipset Snapdragon C ini dirancang secara spesifik untuk menggerakkan jajaran laptop Windows yang masuk dalam kategori kelas entry-level. Langkah ini menunjukkan fokus Qualcomm untuk memperluas penetrasi teknologi ARM ke segmen pasar yang lebih luas.

Perangkat keras yang ditenagai oleh Snapdragon C ini diproyeksikan akan memiliki banderol harga yang sangat kompetitif, yaitu sekitar 300 dolar AS, atau setara dengan kisaran Rp5,3 jutaan. Strategi penetapan harga ini bertujuan membuat notebook berteknologi hemat daya lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan.

Segmen pengguna yang menjadi target utama kehadiran laptop murah bertenaga Snapdragon C ini adalah pelajar, keluarga, serta para pekerja kantoran yang membutuhkan perangkat andal untuk kebutuhan dasar. Hal ini berbeda dengan seri Snapdragon X yang sebelumnya diposisikan untuk segmen harga yang lebih tinggi.

Dilansir dari Suara, Qualcomm mempersiapkan Snapdragon C untuk mendisrupsi pasar laptop murah secara lebih masif di masa mendatang. Berbeda dengan Snapdragon X yang mengandalkan inti CPU Oryon eksklusif, komponen baru ini akan menggunakan inti CPU Kryo yang dikembangkan berdasarkan IP Arm.

Meskipun performa Snapdragon C diprediksi tidak akan menyamai kecepatan varian di atasnya, arsitektur Kryo menjanjikan keunggulan operasional yang signifikan. Qualcomm menjanjikan bahwa perangkat yang menggunakannya akan beroperasi dengan suhu tetap dingin dan senyap tanpa memerlukan kipas pendingin.

Selain desain yang tipis dan tenang, daya tahan baterai menjadi nilai jual utama yang ditawarkan oleh chipset ini. Komponen ini diklaim memiliki efisiensi energi yang sangat tinggi, menjadikannya ideal untuk mendukung aktivitas komputasi harian tanpa sering mencari colokan listrik.

Sektor kecerdasan buatan juga turut disematkan melalui unit pemrosesan saraf atau NPU terintegrasi pada Snapdragon C. Namun, Qualcomm telah mengonfirmasi bahwa chipset ini belum memenuhi syarat untuk mendukung fitur Microsoft Copilot+ yang membutuhkan standar performa tertentu.

"Keputusan tersebut mengindikasikan bahwa performa komputasi NPU pada komponen ini belum menyentuh standar 40 TOPS yang ditetapkan oleh Microsoft," ujar perwakilan Qualcomm. Meskipun demikian, fungsi AI yang tersedia dinilai tetap mampu membantu mempercepat berbagai pekerjaan ringan sehari-hari.