TREN.BISNISMARKET.COM - PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) mengumumkan keputusan mengejutkan terkait pembagian keuntungan bagi pemegang saham menyusul kinerja finansial tahun lalu. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang diselenggarakan pada Rabu, 20 Mei 2026.

Keputusan yang diambil manajemen adalah meniadakan pembagian dividen untuk tahun buku 2025. Kebijakan ini merupakan respons langsung terhadap kondisi keuangan perusahaan yang mengalami kemerosotan signifikan sepanjang tahun fiskal tersebut.

Hal ini terbukti dari laporan kinerja tahun buku 2025 yang menunjukkan kerugian bersih substansial. Kerugian bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 4,42 triliun.

Angka kerugian ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kinerja tahun sebelumnya, yakni 2024. Pada tahun 2024, EXCL masih mampu mencatatkan laba bersih yang positif sebesar Rp 1,81 triliun.

Meskipun mengalami kerugian bersih, pendapatan perseroan sebenarnya menunjukkan tren positif. Pendapatan tercatat tumbuh sebesar 23,41 persen secara tahunan, mencapai Rp 42,44 triliun pada tahun 2025.

Pertumbuhan pendapatan ini lebih tinggi dibandingkan capaian pada periode tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp 34,39 triliun. Pertumbuhan pendapatan ini mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas bisnis di tengah tantangan biaya.

Direktur & Chief Financial Officer XLSmart Telecom Sejahtera, Antony Susilo, menjelaskan dasar hukum di balik peniadaan dividen tersebut. Dikutip dari Investasi, Antony Susilo menyatakan bahwa peraturan perundang-undangan melarang perusahaan yang merugi untuk mendistribusikan dividen kepada para pemegang saham.

"Di peraturan perundangan, kalau perusahaan mengalami kerugian maka perusahaan tersebut tidak boleh memberikan dividen. Di 2025, XLSmart membukukan kerugian," jelas Antony Susilo, Direktur & Chief Financial Officer XLSmart Telecom Sejahtera.

Manajemen perusahaan mengidentifikasi dua faktor utama yang menjadi pemicu kerugian finansial besar tersebut. Faktor utama tersebut adalah pembengkakan beban depresiasi serta dampak dari realisasi aksi korporasi merger antara XL Axiata dan Smartfren Telecom pada tahun 2025.