TREN.BISNISMARKET.COM - Penggunaan alat bantu dengar atau earphone oleh para pengendara, baik sepeda motor maupun mobil, kini menjadi sorotan serius karena terbukti meningkatkan risiko fatalitas kecelakaan lalu lintas. Fenomena ini disebabkan oleh terganggunya konsentrasi pengemudi serta hilangnya kesadaran penuh terhadap dinamika situasi di jalan raya.

Ancaman ini telah menarik perhatian mendalam dari berbagai pihak, mencakup pakar keselamatan berkendara, tenaga medis spesialis, hingga aparat kepolisian. Hal ini diungkapkan menyusul meningkatnya insiden yang berkaitan dengan penggunaan perangkat audio pribadi saat mengoperasikan kendaraan.

Pakar keselamatan berkendara, Sony Susmana, menegaskan bahwa suara yang dihasilkan oleh perangkat audio tersebut memiliki dampak langsung terhadap kondisi emosi pengemudi saat berada di tengah kepadatan lalu lintas. "Headset yang mengeluarkan lantunan suara berupa musik dan lainnya pasti memengaruhi emosi dan tergganggunya konsentrasi," tegas Sony pada hari Jumat (8/5/2026).

Sony menekankan bahwa fokus utama seseorang di balik kemudi seharusnya hanya tertuju pada pemantauan lingkungan sekitar untuk memitigasi semua potensi bahaya yang mungkin muncul. Ia menambahkan bahwa bukan besaran atau kecilnya penggunaan earphone yang menjadi isu utama, melainkan kemampuan pengemudi dalam mengendalikan potensi bahaya yang timbul akibatnya. "Yang harus menjadi perhatian bukan pengaruh besar kecilnya penggunaan earphone, tapi seberapa mampu pengemudi mengendalikan bahayanya," ujarnya.

Dari perspektif medis, Dokter Spesialis THT-BKL RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, Hemastia Manuhara Harba'i, menyoroti peran krusial indra pendengaran dalam merespons peringatan bahaya di jalan. Indra pendengaran sangat vital untuk mendeteksi suara kritis seperti klakson dari kendaraan lain yang memberikan peringatan dini.

Manuhara menjelaskan bahwa pendengaran yang terhalang earphone akan mempersulit respons cepat terhadap sinyal darurat di jalan. "Misalnya ketika ada klakson, sulit bagi pengendara untuk mengetahui arah suara karena telinga tertutup earphone," jelas Manuhara dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.

Psikolog Klinis Senior, Ratih Ibrahim, menambahkan bahwa penggunaan earphone cenderung mengunci indra pengendara pada dunia internal mereka sendiri, yang pada gilirannya menurunkan kewaspadaan terhadap area yang mungkin tidak terlihat (titik buta). "Hanya saja tetap besar kemungkinan pengendara jadi tidak aware dengan situasi di sekitarnya, seperti keberadaan pengendara lain, orang lain, dan hal-hal lain," kata Ratih.

Ratih menilai gangguan pendengaran ini sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan keterlambatan vital dalam merespons situasi mendesak, seperti pengereman mendadak atau adanya gangguan suara lingkungan sekitar. "Ini potensi bahayanya sangat besar untuk kecelakaan lalu lintas. Tidak hanya bagi dirinya, juga bagi semua yang ada di sekitarnya," tegas Ratih.

Dikutip dari Megapolitan, beberapa pengendara di lapangan mengakui masih menggunakan earphone meskipun pernah nyaris mengalami kecelakaan fatal. Salsa (27), seorang pengendara di Jakarta Timur, bercerita bahwa ia pernah hampir tertabrak karena tidak mendengar klakson peringatan. "Pernah sih gara-gara pakai headset mau ketabrak, karena enggak dengar diklakson," ujar Salsa saat ditemui di kawasan Matraman, Jakarta Timur.