TREN.BISNISMARKET.COM - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) berhasil membukukan surplus operasional sebesar Rp2,86 triliun selama Tahun Buku 2025. Angka ini mencerminkan efektivitas pengelolaan aset perkebunan negara yang ditugaskan kepada perseroan.
Pencapaian surplus ini seiring dengan perluasan mandat dari pemerintah, kini PT Agrinas Palma Nusantara mengelola total sekitar 4,11 juta hektare aset perkebunan milik negara.
Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, menjelaskan bahwa surplus operasional ini merupakan hasil dari pelaksanaan penugasan pemerintah dalam mengelola aset perkebunan. Ini berbeda dari laba korporasi yang berasal dari kegiatan usaha komersial perusahaan.
"Capaian ini menjadi fondasi penting bagi APN untuk terus memperkuat peran sebagai pengelola aset perkebunan negara yang mampu menciptakan nilai tambah sekaligus memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi negara dan masyarakat," ujar Abdul Ghani dalam keterangan resmi.
Sementara itu, di luar penugasan pengelolaan aset negara, Agrinas Palma Nusantara juga mencatatkan laba bersih sebesar Rp27,9 miliar. Laba tersebut berasal dari lini bisnis komersial perusahaan, yaitu jasa konsultansi konstruksi.
Dengan demikian, perseroan kini menjalankan dua fungsi utama secara simultan. Pertama, mengelola aset perkebunan negara berdasarkan mandat yang diberikan pemerintah. Kedua, mempertahankan kinerja bisnis melalui kegiatan usaha korporasi yang dijalankannya.
Pada awal 2025, luas areal yang dikelola Agrinas tercatat sekitar 1,7 juta hektare. Namun, seiring dengan penambahan penugasan dari pemerintah, cakupan pengelolaan aset perkebunan negara tersebut meningkat signifikan menjadi 4,11 juta hektare.
Dari total lahan yang dikelola tersebut, sekitar 730.000 hektare merupakan kebun kelapa sawit yang telah memasuki fase produktif. Skala pengelolaan ini menempatkan Agrinas sebagai salah satu entitas pengelola aset perkebunan terbesar di Indonesia.
"Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pengelolaan perkebunan yang produktif, ramah lingkungan, dan ramah sosial. Kami meyakini bahwa pengelolaan aset yang didukung tata kelola yang baik, penerapan praktik perkebunan berkelanjutan, serta kemitraan yang harmonis dengan masyarakat akan menghasilkan manfaat yang optimal," kata Abdul Ghani.