TREN.BISNISMARKET.COM - Tingkat keterisian atau okupansi gedung perkantoran di Jakarta yang memiliki koneksi langsung dengan jaringan transportasi publik seperti MRT dan LRT dilaporkan menunjukkan peningkatan signifikan. Fenomena ini menandakan pergeseran prioritas penyewa korporasi dalam memilih lokasi kantor.

Head of Office Services Colliers Indonesia, Bagus Adikusumo, menggarisbawahi bahwa kemudahan aksesibilitas dari dan menuju simpul transportasi terpadu kini menjadi daya tarik utama bagi para calon tenant. Sebagai dampaknya, beberapa koridor perkantoran strategis berhasil mencatatkan tingkat okupansi di atas 70%.

Dilansir dari Bisnis.com, Bagus Adikusumo menjelaskan peran konektivitas dalam meningkatkan nilai properti komersial. "Konektivitas berperan dalam mentransformasi nilai aset real estat. Gedung kantor yang terintegrasi dengan infrastruktur transportasi menunjukkan daya tarik permintaan yang lebih tinggi serta ketahanan yang lebih baik," ujar Bagus dalam riset terbarunya, dikutip Senin (29/6/2026).

Berdasarkan data yang dibagikan, kawasan Sudirman dan Thamrin tercatat sebagai area perkantoran dengan tingkat sewa tertinggi, mencapai 77,4%. Lokasi ini sangat diminati karena terkoneksi hampir seluruh moda transportasi umum, termasuk KRL, LRT Dukuh Atas, MRT Jakarta, dan Transjakarta.

Sementara itu, klaster perkantoran di sub area Rasuna Said dan Gatot Subroto juga menunjukkan performa kuat dengan okupansi mencapai 75,9%. Keunggulan area ini didukung oleh konektivitasnya dengan LRT Jabodetabek dan layanan Transjakarta.

Berbeda dengan dua koridor utama tersebut, area Mega Kuningan dan Satrio mencatatkan tingkat hunian yang lebih rendah, yakni hanya 67,9%. Perbedaan ini disebabkan karena area tersebut tidak memiliki akses langsung ke jaringan kereta api, baik itu KRL, LRT, maupun MRT.

Bagus Adikusumo juga memaparkan perbandingan data yang menunjukkan dampak nyata dari integrasi transportasi. "Tingkat okupansi yang 8%-9% lebih tinggi tercatat pada gedung perkantoran di Jakarta yang memiliki akses ke MRT dan LRT dibandingkan dengan yang tidak memiliki konektivitas tersebut," jelas Bagus.

Suburnya permintaan di koridor transit ini dipicu oleh upaya korporasi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan karyawan mereka. Akses transportasi yang terintegrasi dinilai mampu memotong waktu tempuh perjalanan secara efektif dan mengurangi tingkat stres selama perjalanan.

Integrasi dengan moda transportasi lain seperti KRL Commuter Line dan Transjakarta semakin memperkuat posisi tawar klaster perkantoran tertentu, membuat gedung-gedung di koridor ini lebih adaptif terhadap dinamika pasar properti yang sering berubah.