TREN.BISNISMARKET.COM - Industri keramik nasional saat ini tengah berada dalam fase krusial untuk menggenjot utilisasi produksi sepanjang tahun berjalan. Namun, upaya peningkatan kapasitas ini terancam oleh isu biaya energi yang menjadi beban utama operasional pabrik.
Asosiasi Industri Keramik Indonesia (ASAKI) secara terbuka menyampaikan kegelisahan besar mengenai potensi tergerusnya daya saing produk keramik Indonesia di pasar global maupun domestik. Kekhawatiran ini berpusat pada penetapan harga gas untuk sektor industri.
Permasalahan utama yang menjadi sorotan adalah harga gas yang dipatok pada level US$ 15 per MMBTU. Angka tersebut dinilai terlalu tinggi dan memberatkan struktur biaya produksi bagi para pelaku industri keramik.
Kekhawatiran ini muncul mengingat industri keramik merupakan sektor padat energi yang sangat sensitif terhadap fluktuasi atau ketetapan harga gas alam. Kenaikan biaya input secara langsung akan memengaruhi harga jual akhir produk.
"Industri keramik nasional menghadapi tantangan baru di tengah upaya meningkatkan utilisasi produksi pada tahun ini," ujar perwakilan asosiasi terkait. Pernyataan ini menggarisbawahi situasi dilematis yang dihadapi sektor tersebut.
Jika harga gas tetap bertahan pada level US$ 15 per MMBTU, dikhawatirkan akan terjadi distorsi harga dibandingkan dengan kompetitor di negara lain yang mungkin mendapatkan suplai energi dengan harga lebih murah. Hal ini secara signifikan akan mengikis keunggulan kompetitif yang telah dibangun.
Oleh sebab itu, ASAKI mendesak adanya peninjauan ulang terhadap kebijakan penetapan harga gas industri. Mereka berharap pemerintah dapat mencari solusi agar harga energi lebih kompetitif, mendukung upaya pemulihan dan peningkatan kapasitas produksi.
Dikutip dari sumber terkait, isu biaya energi ini menjadi perhatian utama dalam rapat internal asosiasi untuk merumuskan langkah strategis ke depan. Mereka perlu memastikan keberlanjutan investasi dan ekspansi yang telah direncanakan.
Upaya peningkatan utilisasi produksi bertujuan untuk mengoptimalkan aset dan memenuhi permintaan pasar yang mulai membaik pasca periode tertentu. Namun, biaya energi yang tinggi menjadi rem utama bagi akselerasi pertumbuhan ini.