TREN.BISNISMARKET.COM - Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) menyampaikan peringatan serius mengenai kondisi industri komponen otomotif di Indonesia yang masih berada di bawah tekanan signifikan. Tekanan ini terutama bersumber dari melemahnya permintaan di pasar kendaraan domestik serta rendahnya tingkat serapan komponen lokal untuk kendaraan listrik (EV).

Kondisi industri yang stagnan ini berpotensi memicu dampak negatif lanjutan, seperti adanya tren relokasi fasilitas pabrik ke luar negeri dan peningkatan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) jika pemerintah tidak segera mengambil langkah responsif melalui kebijakan yang mendukung sektor dalam negeri.

Sekretaris Jenderal GIAMM, Rachmat Basuki, menjelaskan bahwa dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, sektor ini telah merasakan penurunan permintaan yang sejalan dengan melemahnya penjualan kendaraan roda empat di pasar domestik. Penjualan kendaraan turun dari capaian 1 juta unit menjadi sekitar 800.000 unit dalam periode tersebut.

"Pasar otomotif domestik dalam 3 tahun terakhir memang turun dari 1 juta unit menjadi sekitar 800.000 unit. Ditambah lagi maraknya CBU [completely built up] kendaraan EV atau simpel assembling yang tidak memberikan kontribusi terhadap industri komponen lokal. Jadi industri komponen lokal akhir-akhir ini memang berada di bawah kapasitas," ujar Rachmat Basuki kepada Bisnis pada Senin (22/6/2026).

Rachmat menilai bahwa situasi ini secara langsung berdampak pada daya saing Indonesia dalam menarik investasi baru di sektor otomotif dan komponen. Selain permintaan domestik yang lesu, masalah daya saing juga diperparah oleh ketergantungan industri terhadap impor bahan baku, yang membuat biaya produksi menjadi kurang kompetitif dibandingkan negara tetangga.

"Untuk bisa berproduksi di Indonesia bahan baku juga masih banyak yang impor. Iklim usaha yang kurang kompetitif seperti di Vietnam dan Thailand," jelas Rachmat.

Meskipun pelaku industri komponen telah menunjukkan kesiapan untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik, Rachmat menegaskan bahwa kesiapan tersebut belum diimbangi dengan peningkatan permintaan riil dari pabrikan kendaraan listrik. Mayoritas EV yang dijual di pasar nasional masih diimpor secara utuh atau hanya dirakit menggunakan paket CKD.

"Jadi belum memberikan kontribusi apa-apa terhadap industri komponen lokal,” imbuhnya.

Saat ini, pangsa pasar kendaraan listrik di Indonesia baru mencapai sekitar 15% dari total penjualan otomotif nasional. Hal ini berarti sekitar 85% pasar masih didominasi oleh kendaraan konvensional dan hybrid, sehingga transisi EV belum mampu sepenuhnya menutupi penurunan permintaan komponen otomotif konvensional.