TREN.BISNISMARKET.COM - Australia secara resmi telah menerima kiriman perdana pupuk urea sebanyak 47.250 ton dari Indonesia. Pengiriman ini merupakan tonggak penting karena menjadi implementasi pertama dari kerja sama government-to-government (G2G) di sektor pupuk antara kedua negara.

Kapal yang membawa komoditas tersebut, Medi Luna, bersandar di Port of Brisbane, Australia, pada hari Senin, 22 Juni 2025. Pengiriman ini merupakan bagian dari kontrak pasokan total 250.000 ton yang telah disepakati antara PT Pupuk Indonesia (Persero) dan Incitec Pivot Fertilisers.

Presiden Direktur PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menekankan bahwa meskipun Australia telah lama menjadi pasar ekspor utama urea Indonesia, pengiriman kali ini memiliki makna khusus. Hal ini disebabkan karena pengiriman ini dilakukan dalam kerangka kerja sama G2G dan kontrak jangka panjang.

"Hari ini kita menyaksikan sandarnya kapal Medi Luna yang membawa urea sebesar 47.250 ton. Ini adalah kapal pertama di bawah kesepakatan G2G. Kapal ini spesial karena diangkat melalui G2G dan melalui kontrak jangka panjang sehingga memberikan kepastian di tengah gejolak pasar yang penuh ketidakpastian," ungkap Rahmad, Senin (22/6/2025).

Rahmad Pribadi menilai bahwa kerja sama ini secara jelas menunjukkan adanya hubungan saling membutuhkan antara Indonesia dan Australia. Ia menyoroti kedekatan geografis Australia sebagai pasar bagi Indonesia, sekaligus posisi Indonesia sebagai mitra strategis bagi Australia.

Tahap awal kerja sama ini menetapkan pasokan total 250.000 ton urea dari Pupuk Indonesia kepada Australia. Rencananya, pengiriman akan dilakukan secara berkala dengan volume sekitar 50.000 ton per bulan selama lima bulan ke depan.

Lebih lanjut, Rahmad menyatakan bahwa volume pasokan tersebut masih sangat fleksibel dan berpotensi untuk ditingkatkan jika kebutuhan Australia bertambah. "250.000 ton adalah basisnya, tetapi ini bisa meningkat sampai jumlah yang memang mereka perlukan," katanya.

Pengiriman urea ke Australia ini juga dilaporkan sejalan dengan arahan dari Presiden Prabowo Subianto. Prioritas utama tetap diberikan pada pemenuhan kebutuhan pupuk domestik Indonesia sebelum meningkatkan ekspor kepada negara sahabat.

Menurut Rahmad, industri pupuk nasional Indonesia memang didesain untuk memiliki kapasitas yang melebihi kebutuhan dalam negeri, sehingga sebagian besar produksi dialokasikan untuk pasar ekspor. "Kita memiliki kapasitas yang lebih besar daripada kebutuhan petani di Indonesia. Industri pupuk Indonesia memang didesain sebagian untuk ekspor," ujarnya.