TREN.BISNISMARKET.COM - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) selaku emiten besar di sektor perbankan akan segera melaksanakan aksi korporasi penting terkait pembagian keuntungan kepada para pemegang saham. Aksi korporasi ini berupa pembayaran dividen final untuk tahun buku 2025 yang telah dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.

Pembayaran dividen final dengan total nilai fantastis mencapai Rp 35,14 triliun tersebut dijadwalkan akan dicairkan pada hari Senin, 25 Mei 2026. Informasi ini merupakan bagian dari rangkaian agenda pembagian keuntungan yang telah ditetapkan oleh perseroan kepada investornya.

"Perseroan menjadwalkan pembayaran dividen final tahun buku 2025 dengan total nilai mencapai Rp 35,14 triliun pada Senin (25/5/2026)," demikian informasi yang disampaikan, Dikutip dari Investor Daily.

Hak untuk menerima pembagian keuntungan ini hanya diberikan kepada pemegang saham yang namanya terdaftar dalam daftar pemegang saham resmi. Batas waktu pencatatan tersebut ditetapkan pada penutupan perdagangan hari Selasa, 12 Mei 2026, tepatnya pukul 16.00 WIB.

Bagi setiap lembar saham BMRI yang dimiliki oleh investor yang memenuhi syarat, akan mendapatkan porsi dividen sebesar Rp 376,95 per lembar saham. Jumlah ini menunjukkan apresiasi perusahaan terhadap loyalitas para pemegang sahamnya.

Sebelumnya, para investor perlu memperhatikan tanggal penting terkait perdagangan saham, yaitu cum date atau batas akhir perdagangan saham yang masih memberikan hak dividen. Batas akhir perdagangan saham Bank Mandiri untuk mendapatkan dividen ini jatuh pada 8 Mei 2026.

Nilai imbal hasil dari dividen final yang dibagikan kali ini tercatat sebesar 8,14 persen. Angka tersebut dihitung berdasarkan harga penutupan saham BMRI pada saat cum date yang berada di level Rp 4.630.

Setelah melewati tanggal cum dividen, pergerakan harga saham BMRI menunjukkan tren yang mayoritas melemah hingga akhir pekan perdagangan terakhir, yaitu Jumat (22/5/2026). Pada penutupan perdagangan hari itu, nilai saham Bank Mandiri terkoreksi 1,20 persen ke posisi Rp 4.120.

Pelemahan harga saham ini juga melanjutkan tren negatif yang telah terjadi selama satu bulan terakhir, di mana saham emiten perbankan milik pemerintah ini telah merosot hingga 12,34 persen. Penurunan ini turut diwarnai aksi jual bersih oleh investor asing yang mencapai nominal Rp 4,99 triliun.