TREN.BISNISMARKET.COM - Proses pemilihan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang akan datang menjadi sorotan penting, di mana kepastian hukum dan kepatuhan terhadap regulasi dinilai krusial. Hal ini diungkapkan oleh Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafni.

Menurut Rahma Gafni, pemilihan yang transparan dan sesuai dengan peraturan yang berlaku akan memberikan sinyal positif bagi investor. Sinyal ini diharapkan dapat menarik baik investor domestik maupun asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

"Kepastian hukum dan kepatuhan terhadap regulasi dalam proses pemilihan Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai akan menjadi sinyal positif bagi investor, baik domestik maupun asing," papar Rahma Gafni.

Beliau menekankan bahwa kejelasan mengenai mekanisme transisi dalam penunjukan pengganti definitif juga menjadi faktor fundamental. Mekanisme yang transparan dan akuntabel ini penting untuk meminimalkan potensi rumor dan spekulasi liar di pasar keuangan.

"Faktor krusial lain yang penting dalam menjaga kepercayaan pasar adalah kejelasan mengenai mekanisme transisi dalam proses penunjukan pengganti definitif yang transparan dan akuntabel akan meminimalkan ruang bagi rumor serta spekulasi liar," jelas Rahma Gafni.

Fokus utama pasar saat ini, menurut Rahma Gafni, adalah kepastian bahwa kepemimpinan baru BI akan tetap berkomitmen pada stabilitas harga dan nilai tukar rupiah. Hal ini sangat penting mengingat dinamika global yang penuh ketidakpastian.

"Komitmen pada stabilitas harga dan nilai tukar pelaku pasar menanti kepastian bahwa kepemimpinan baru akan tetap fokus pada mandat utama, yaitu mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian," ujar Rahma Gafni.

Rahma Gafni juga menyoroti pentingnya batas yang jelas antara kebijakan fiskal dan moneter. Ketegasan bank sentral dalam menjaga independensinya dari tekanan politik maupun fiskal menjadi pondasi utama untuk meredam risiko premi risiko pada aset domestik.

"Pasar selalu mencermati batas antara kebijakan fiskal dan moneter. Ketegasan bank sentral dalam mempertahankan independensinya dari tekanan politik maupun fiskal adalah fondasi utama untuk meredam risiko premi risiko (risk premium) yang berlebihan pada aset domestik," tegasnya.