TREN.BISNISMARKET.COM - China secara tegas menetapkan batasan maksimal terkait pemberlakuan tarif baru oleh Amerika Serikat (AS) sebagai respons terhadap negosiasi perdagangan yang sedang berjalan. Langkah ini sekaligus menjadi penegasan garis batas yang jelas bagi Washington.

Selain itu, Beijing juga melayangkan peringatan kepada pihak Amerika Serikat agar tidak menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang berasal dari China. Peringatan ini disampaikan menjelang pertemuan puncak antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump.

Kementerian Perdagangan China mengumumkan pada hari Senin (27/7) bahwa Amerika Serikat telah berkomitmen dalam pembicaraan perdagangan untuk membatasi apa yang disebut sebagai tarif pengganti maksimal sebesar 20%. Pernyataan ini muncul sebagai penegasan atas kesepakatan yang dicapai.

"AS telah berkomitmen selama pembicaraan perdagangan untuk membatasi apa yang disebut sebagai tarif pengganti maksimal sebesar 20%," demikian diungkapkan Kementerian Perdagangan China, sebagaimana dikutip dari Bloomberg.

Beijing mengungkapkan kesepakatan tersebut setelah Washington memberlakukan tarif baru sebesar 12,5% pada barang-barang China. Tarif baru ini diberlakukan untuk menggantikan tarif lama yang sebelumnya telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS, yang secara efektif menetapkan batas untuk kenaikan lebih lanjut.

Hanya berselang beberapa menit setelah pengumuman mengenai tarif tersebut, China kembali mengeluarkan peringatan tegas. Pihak China menyatakan akan mengambil "semua langkah yang diperlukan" jika AS nekat menjatuhkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan AI China.

Peringatan tersebut secara spesifik merujuk pada tuduhan penyalahgunaan model buatan Amerika oleh perusahaan China untuk melatih sistem AI mereka sendiri. Hal ini menunjukkan sensitivitas Beijing terhadap isu teknologi dan kekayaan intelektual.

Kedua pernyataan yang dikeluarkan oleh China tersebut tampaknya memiliki tujuan strategis untuk memberi sinyal peringatan kepada Washington. Peringatan ini ditujukan untuk menegaskan hal-hal yang dianggap tidak dapat diterima oleh Beijing, tanpa secara langsung memicu eskalasi ketegangan yang lebih besar.

Sinyal tegas ini disampaikan saat kedua negara tengah bersiap menghadapi rencana kunjungan Presiden Xi Jinping ke Amerika Serikat. Upaya ini juga dilakukan untuk menjaga gencatan perdagangan yang rapuh sejak bulan November lalu, menunjukkan keinginan untuk menjaga stabilitas hubungan bilateral.