TREN.BISNISMARKET.COM - Saham-saham di Korea Selatan mengalami gejolak hebat pada hari Selasa, ditandai dengan serangkaian penangguhan perdagangan atau trading halt. Kejadian ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran yang mendominasi sektor produsen chip dan merembet ke berbagai industri lainnya.

Indeks acuan utama Korea Selatan, Kospi, tercatat anjlok drastis hingga hampir 11%. Penurunan ini turut menyeret saham-saham raksasa seperti Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc., yang masing-masing mengalami pelemahan lebih dari 13%.

Menyikapi volatilitas yang ekstrem, otoritas bursa Korea mengambil langkah untuk menghentikan sementara perdagangan. Perdagangan tunai di indeks Kospi dan Kosdaq dihentikan selama masing-masing 20 menit, menyusul penangguhan sebelumnya terhadap perdagangan program akibat anjloknya harga saham.

Pasar saham Korea, yang kerap dijadikan barometer perdagangan terkait kecerdasan buatan (AI), kini justru menjadi sorotan sebagai peringatan dini mengenai potensi bahaya dari antusiasme investor yang berlebihan. Indeks Kospi telah merosot lebih dari 30% dari puncak tertinggi yang dicapai sekitar sebulan lalu.

Penurunan signifikan ini timbul akibat kekhawatiran pasar terhadap kemampuan perusahaan-perusahaan teknologi AI global terkemuka untuk mengubah investasi besar-besaran mereka menjadi keuntungan yang substansial. Selain itu, persaingan yang kian ketat dari para kompetitor di Tiongkok juga menjadi faktor penekan.

"Saham-saham Korea Selatan mengalami serangkaian penangguhan perdagangan atau trading halt pada hari Selasa, sejalan dengan maraknya aksi jual di kalangan produsen chip yang meluas ke berbagai sektor," demikian kutipan dari Bloomberg News.

"Indeks acuan Kospi anjlok hampir 11%, dengan Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc. masing-masing merosot lebih dari 13%," lanjut kutipan tersebut.

"Bursa Korea menghentikan perdagangan tunai di indeks Kospi dan Kosdaq selama masing-masing 20 menit, setelah sebelumnya menangguhkan perdagangan program seiring anjloknya harga," demikian pernyataan yang dikutip dari Bloomberg News.

"Sebagai acuan perdagangan AI yang populer, pasar Korea telah dengan cepat berubah menjadi peringatan akan bahaya antusiasme investor yang berlebihan," kutipan dari Bloomberg News menjelaskan konteks pasar.