TREN.BISNISMARKET.COM - Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menyambut baik implementasi kebijakan mandatori biodiesel B50. Menurut FINI, kebijakan ini memiliki korelasi positif yang kuat terhadap perkembangan dan keberlanjutan industri nikel di Indonesia.
Ketua FINI, Arif Perdana Kusumah, menjelaskan bahwa kebijakan B50 ini sangat mendukung upaya dekarbonisasi yang sedang dijalankan oleh sektor pertambangan dan hilirisasi nikel. Hal ini sejalan dengan komitmen global untuk mengurangi emisi karbon.
Pelaku usaha di sektor pengolahan dan pemurnian nikel menyatakan kesediaan untuk mematuhi seluruh ketentuan yang ditetapkan pemerintah terkait penerapan mandatori B50. Kepatuhan ini menjadi kunci dalam mewujudkan tujuan kebijakan tersebut.
Arif Perdana Kusumah menekankan, "Kebijakan mandatori B50 ini memiliki korelasi positif yang sangat erat dengan perkembangan serta keberlanjutan industri nikel di tanah air," ujarnya pada Minggu (12/7/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya sinergi antara kebijakan energi dan industri strategis.
Sektor pertambangan dan pengolahan nikel merupakan salah satu konsumen terbesar bahan bakar solar dalam operasionalnya. Penggunaan solar ini mencakup berbagai aktivitas penting, mulai dari penambangan hingga operasional di kawasan industri.
Oleh karena itu, FINI memahami langkah pemerintah dalam mengimplementasikan mandatori Biosolar B50. Kebijakan ini dipandang sebagai strategi jitu untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus mewujudkan kedaulatan energi.
"Langkah ini diharapkan mampu memangkas ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM secara signifikan sekaligus memaksimalkan pemanfaatan sumber daya alam domestik," ujar Arif Perdana Kusumah. Hal ini menunjukkan potensi besar sumber daya alam dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan energi.
Sebelumnya, pelaku industri nikel nasional telah aktif menjalankan berbagai program pengurangan emisi karbon sebagai bagian dari transisi energi. Inisiatif ini menunjukkan kesiapan industri untuk beradaptasi dengan standar keberlanjutan global.
Beberapa perusahaan nikel telah mulai memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) dan meningkatkan efisiensi energi pada fasilitas peleburan mereka. Selain itu, penggunaan kendaraan listrik juga mulai dioperasikan secara bertahap untuk aktivitas operasional.