TREN.BISNISMARKET.COM - Citra satelit terbaru yang dirilis oleh Earth Observatory NASA telah mengungkap skala transformasi fisik yang terjadi di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Perubahan signifikan pada bentang alam ini terlihat jelas dari perbandingan foto yang diambil pada periode pembangunan awal proyek strategis nasional tersebut.
Perbandingan kondisi lahan ini didapatkan melalui pemindaian sensor Operational Land Imager-2 (OLI-2) dari satelit Landsat 9 dan OLI pada Landsat 8. Data ini secara gamblang menyoroti bagaimana area yang sebelumnya didominasi oleh vegetasi kini berubah menjadi zona konstruksi berskala besar.
"Pembangunan IKN dimulai pada Juli 2022 di kawasan hutan dan perkebunan kelapa sawit sekitar 30 kilometer dari Selat Makassar," Dikutip dari Earth Observatory NASA dalam publikasinya, Sabtu (20/6/2026).
Pada citra yang diambil pada Juli 2022, kawasan calon ibu kota baru tersebut masih didominasi oleh hamparan hutan hijau yang lebat. Saat itu, hanya terlihat sedikit jalan akses dan area terbuka yang tersebar di beberapa titik saja.
Sebaliknya, citra dari Februari 2024 menunjukkan perkembangan yang sangat berbeda, menampilkan jaringan jalan yang telah meluas dan saling terhubung secara signifikan. Selain itu, terlihat hamparan lahan terbuka berwarna cokelat yang mengindikasikan adanya aktivitas konstruksi masif yang sedang berlangsung.
Di sentral kawasan IKN, citra satelit juga menangkap adanya klaster pembangunan besar yang kini menjadi fokus pengembangan utama ibu kota baru Indonesia. Area yang sebelumnya tertutup vegetasi kini telah bertransformasi menjadi lokasi pembangunan berbagai infrastruktur vital.
Menurut tinjauan NASA, proyek pemindahan ibu kota ini merupakan langkah Indonesia untuk mengatasi tantangan lingkungan yang telah lama membebani Jakarta. Jakarta menghadapi isu krusial seperti banjir, kemacetan kronis, polusi udara, dan keterbatasan pasokan air bersih.
NASA juga mencatat bahwa Jakarta menghadapi ancaman serius berupa penurunan muka tanah yang terus menerus akibat eksploitasi air tanah yang masif. "NASA mencatat laju penurunan permukaan tanah di beberapa wilayah ibu kota mencapai hingga 15 sentimeter per tahun. Akibatnya, sekitar 40% wilayah Jakarta kini berada di bawah permukaan laut," Dikutip dari Earth Observatory NASA.
Meskipun demikian, transformasi lahan skala besar ini menimbulkan keprihatinan serius dari kalangan peneliti lingkungan. Mereka menyuarakan potensi gangguan serius terhadap ekosistem yang ada, mengingat wilayah tersebut merupakan habitat bagi keanekaragaman hayati yang tinggi.