TREN.BISNISMARKET.COM - Dibukanya kembali Selat Hormuz memang memberikan sedikit kelegaan bagi sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional dari bayang-bayang lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah. Namun, optimisme tersebut harus diimbangi dengan realitas bahwa tekanan struktural terhadap kinerja sektor ini masih belum mereda.

Pelaku industri menilai pemulihan kinerja sektor tekstil masih terhambat oleh banjir produk impor, tingginya biaya energi, serta rendahnya tingkat utilisasi industri hulu yang menjadi isu krusial. Hal ini menunjukkan bahwa faktor eksternal seperti stabilitas jalur pelayaran hanya menjadi solusi parsial.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Danang Girindrawardana, menjelaskan bahwa terbukanya jalur pelayaran strategis tersebut berpotensi memberikan tekanan turun pada harga bahan baku TPT yang sebagian besar merupakan turunan minyak bumi.

"Memang bahan baku kimia tekstil, benang itu berasal dari minyak, dari bahan bakar fosil dan tidak tergantikan. Jadi sangat tergantung terhadap pergerakan harga minyak," kata Danang kepada Bisnis, Jumat (19/6/2026).

Menurut Danang, gejolak di Selat Hormuz sebelumnya telah memicu kenaikan harga bahan baku dan biaya logistik akibat lonjakan harga energi, yang menjadi beban utama industri tekstil selama ini. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa pembukaan selat tersebut hanya membantu meredakan tekanan biaya produksi sementara.

Prospek industri tekstil pada semester II/2026 dinilai akan sangat bergantung pada kondisi pasar domestik yang masih menjadi sumber kekhawatiran utama bagi para pelaku usaha. Danang mengaku tetap optimistis terhadap prospek ekspor meskipun permintaan global sempat turun 5% hingga 7% pada kuartal pertama tahun ini.

"Kalau di tingkat internasional kami tidak khawatir. Yang kami khawatir justru pasar domestik karena masih banyak peredaran barang impor yang belum bisa ditangani dengan baik," tuturnya.

Pelemahan ekspor hanya bisa diimbangi jika pasar dalam negeri mampu dikuasai oleh produk lokal, sebab membanjirnya produk impor saat ekspor melemah akan semakin menekan utilisasi industri hulu yang kini hanya berkisar 50%. Oleh karena itu, API mendesak pemerintah untuk memperkuat pengawasan impor sekaligus mempercepat substitusi impor bahan baku yang saat ini masih bergantung pada impor sekitar 60%.

Danang berharap pemerintah dapat mengalokasikan anggaran untuk mendirikan BUMN khusus yang fokus memproduksi bahan baku tekstil guna merealisasikan substitusi impor dengan lebih matang. "Kan ada rencana pemerintah mau mengambil alih salah satu perusahaan yang bangkrut. Harusnya itu bisa diarahkan ke sektor padat karya untuk suplai bahan baku daripada memproduksi garmen karena akan bersaing dengan swasta secara tidak sehat," saran Danang.