TREN.BISNISMARKET.COM - Kondisi makroekonomi Indonesia saat ini tengah menjadi perhatian serius bagi pelaku industri pembiayaan atau multifinance. Secara spesifik, kenaikan suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) serta pelemahan nilai tukar mata uang Rupiah menjadi sentimen utama yang diperhatikan oleh sektor ini.

Sektor pembiayaan ini sangat sensitif terhadap fluktuasi suku bunga dan nilai tukar, mengingat banyak komponen bisnis mereka yang bersinggungan dengan kurs mata uang asing dan biaya pinjaman. Gejolak ini diperkirakan akan membawa dampak langsung pada beban yang harus ditanggung oleh para konsumen atau debitur.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, memberikan pandangan mengenai potensi dampak yang ditimbulkan oleh kondisi ekonomi tersebut terhadap bisnis mereka. Ia menggarisbawahi bahwa imbas kenaikan suku bunga dan pelemahan Rupiah akan mendorong kenaikan harga barang impor.

Kenaikan harga barang impor tersebut, menurut Suwandi, secara otomatis akan berdampak pada kenaikan cicilan yang harus dipenuhi oleh para debitur yang sedang menjalankan perjanjian pembiayaan. Hal ini menciptakan tekanan finansial ganda bagi masyarakat yang mengandalkan jasa perusahaan pembiayaan.

Industri multifinance secara umum terbagi dalam tiga segmen pembiayaan utama yang dijalankan, yaitu pembiayaan investasi, pembiayaan modal kerja, dan pembiayaan multiguna. Masing-masing segmen menghadapi tantangan yang berbeda akibat gejolak ekonomi terkini.

Dari ketiga segmen tersebut, Suwandi Wiratno menyebutkan bahwa segmen pembiayaan investasi adalah yang paling mengalami penurunan kinerja atau hambatan signifikan saat ini. Penurunan ini merupakan konsekuensi langsung dari ketidakpastian kondisi pasar dan kebijakan terkait.

Pembiayaan investasi yang dimaksudkan untuk sektor-sektor strategis seperti pertambangan dan perkebunan kini menghadapi kendala spesifik. Hambatan tersebut terkait erat dengan adanya kebijakan pemerintah terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk sektor pertambangan.

"Kondisi ini akan berefek pada kenaikan barang impor sehingga akan mendorong kenaikan cicilan yang akan ditanggung para debitur," ujar Suwandi Wiratno, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI).

Informasi lebih mendalam mengenai situasi ini terungkap ketika ada dialog antara Mercy Widjaja dengan Ketua APPI, Suwandi Wiratno, dalam program Power Lunch CNBC pada hari Rabu, 17 Juni 2026.