TREN.BISNISMARKET.COM - Kinerja keuangan raksasa industri game asal Jepang, Nintendo, dilaporkan mengalami kemerosotan yang cukup signifikan belakangan ini. Hal ini tercermin dari pergerakan harga saham perusahaan yang tercatat mengalami penurunan tajam.
Penurunan saham Nintendo mencapai angka 7,5% pada hari Rabu tanggal 10 Juni 2026. Peristiwa ini menjadi sorotan pasar modal mengingat posisi Nintendo sebagai salah satu pemimpin pasar konsol global.
Sumber utama dari penurunan kinerja ini adalah minimnya judul game unggulan yang dirilis untuk konsol generasi terbarunya, yaitu Switch 2. Konsol tersebut diluncurkan pada Juni 2025 dengan dua judul utama, yakni Mario Kart World dan Donkey Kong Bananza.
Masalah muncul pada tahun 2026 karena Nintendo tidak merilis judul-judul dari franchise ikonik utama mereka, khususnya seri Super Mario 3D. Ketidakadaan game besar ini sangat memengaruhi minat konsumen menjelang musim belanja penting.
Seorang analis pasar memberikan pandangan mengenai dampak komersial dari situasi ini. "Ketiadaan game Mario 3D mainline untuk musim belanja liburan tahun ini memberikan dampak komersial yang sangat besar," kata Atul Goyal dari Jefferies, Dikutip dari Reuters.
Goyal melanjutkan analisisnya bahwa situasi ini merupakan pengulangan tren negatif yang merugikan penjualan jangka panjang. "Tahun kedua memasuki masa liburan tanpa judul waralaba dengan daya tarik sebanding," ujar Atul Goyal, Dikutip dari Reuters.
Di sisi lain, Nintendo juga mengumumkan penyesuaian harga untuk konsol Switch 2. Kenaikan harga ini merupakan respons langsung terhadap gejolak ekonomi global dan krisis pasokan komponen semikonduktor yang masih berlangsung.
Kenaikan harga sebesar US$50 ini akan mulai berlaku efektif pada tanggal 1 September mendatang, menjadikan harga jual Switch 2 menjadi US$500. Ini merupakan kali pertama perusahaan mengubah harga jual konsol tersebut sejak pertama kali diluncurkan ke pasar.
Perusahaan menjelaskan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan kondisi pasar yang berubah secara fundamental dalam jangka waktu menengah hingga panjang. "Ini merupakan respons pada berbagai perubahan kondisi pasar, yang diperkirakan akan berlanjut dalam jangka menengah hingga panjang," jelas perusahaan, Dikutip dari Cnet.