TREN.BISNISMARKET.COM - Kisah perjalanan Hafsah Pohan, seorang perempuan asal Gunungsitoli, menunjukkan bagaimana tantangan geografis Pulau Nias justru menjadi katalisator dalam merintis usaha budidaya Jamur Tiram Trisha. Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam melintasi laut menjadi latar belakang utama transformasi Hafsah dari mahasiswa menjadi pengusaha sukses.
Perjalanan bisnis ini dimulai pada tahun 2020 ketika Hafsah, yang saat itu berstatus mahasiswa di Medan, mencoba peruntungan sebagai reseller jamur tiram. Namun, jarak yang jauh antara Medan dan Nias sering menyebabkan produk dagangannya rusak sebelum sampai ke tangan konsumen.
Kenyataan pahit tersebut justru membuka mata Hafsah terhadap potensi pasar jamur tiram yang besar di kampung halamannya, yang belum tergarap optimal oleh pembudidaya lokal. Peluang ini semakin terasa mendesak saat pandemi Covid-19 melanda, membatasi ruang gerak Hafsah sebagai lulusan baru yang kesulitan mencari pekerjaan formal.
"Kebetulan saya juga baru lulus dan itu Pandemi Covid-19. Jadi saya mengira ini sulit banget dapat pekerjaan. Ya sudah, karena melihat peluang plus ada dorongan untuk segera bekerja, akhirnya saya memberanikan diri untuk buka usaha Jamur Tiram Trisha," ujar Hafsah Pohan, Pemilik Jamur Tiram Trisha.
Langkah awal Hafsah dalam budidaya ini dilakukan dengan modal yang sangat terbatas, mengandalkan sisa uang tabungan kuliah. Ia memulai usaha tanpa fasilitas modern, hanya bermodal drum bekas sebagai wadah budidaya.
"Hanya sekitar Rp 600.000, itu juga sisa tabungan selepas kuliah. Tak ada fasilitas lengkap, tanpa ada peralatan modern hanya menggunakan drum yang bekas saja," kata Hafsah Pohan, Pemilik Jamur Tiram Trisha.
Pada beberapa bulan pertama, bisnisnya berjalan lancar dengan volume penjualan yang cukup signifikan untuk usaha rintisan. Namun, tantangan alam segera muncul karena komoditas jamur sangat sensitif terhadap fluktuasi cuaca, menyebabkan beberapa kali kegagalan panen.
Masalah kontaminasi media tanam menambah beban Hafsah, padahal basis pelanggannya terus bertumbuh. Di tengah kesulitan tersebut, PT Elnusa Petrofin menawarkan uluran tangan melalui program kemitraan sejak Januari 2024, menjadikannya salah satu UMKM binaan mereka.
Kerja sama ini bermula dari kebutuhan Hafsah akan wadah budidaya yang representatif, di mana Elnusa Petrofin menyediakan wadah sisa pakai operasional yang masih layak. Sejak bergabung, roda bisnis Hafsah berputar lebih ringan dengan peningkatan penjualan hampir dua kali lipat.