TREN.BISNISMARKET.COM - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) telah menyampaikan hasil kajian mengenai kondisi makro ekonomi terkini kepada Presiden terpilih, Prabowo Subianto. Pertemuan ini menjadi ajang untuk mengingatkan pemerintah mengenai potensi tantangan yang akan dihadapi ke depan.
Pertemuan penting tersebut dilaksanakan di Istana Merdeka pada hari Selasa (9/6/2026). Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan, serta para anggota seperti Chatib Basri, Hario Seto, dan Mochammad Firman Hidayat.
Salah satu fokus utama pembahasan adalah dampak pelemahan nilai tukar Rupiah yang telah menembus level Rp 18.000 per Dolar Amerika Serikat. Kondisi ini dinilai berpotensi memicu kenaikan harga barang dan jasa di masyarakat.
"Salah satu isu penting yang harus diperhatikan itu adalah kemungkinan mengenai risiko kenaikan harga-harga yang bisa terjadi akibat dari pelemahan Rupiah. Karena ini tentu akan berdampak pada kelompok menengah bawah," kata salah satu anggota DEN dalam pertemuan tersebut.
Untuk meredam dampak tersebut dan membangun optimisme publik, DEN menekankan pentingnya penumbuhdayaan kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Salah satu cara yang disarankan adalah melalui langkah nyata efisiensi dalam alokasi anggaran negara.
"Termasuk di antaranya di dalam kaitan dengan MBG," kata Chatib Basri, merujuk pada salah satu program pemerintah yang perlu dievaluasi efisiensinya.
Di sisi lain, Mochammad Firman Hidayat memberikan pandangan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam posisi yang baik. Kondisi ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan gejolak krisis yang terjadi pada tahun 1998 silam.
"Dia juga mengatakan bahwa kondisi saat ini jauh dari kondisi krisis 1998. Terlihat dari indikator makro yang tinggi, inflasi yang stabil, hingga neraca korporasi yang dalam posisi sehat," ujar Firman Hidayat.
Firman Hidayat menjelaskan bahwa utang perusahaan yang berbasis Dolar AS saat ini jauh lebih rendah dibandingkan periode krisis 1998. Selain itu, sektor perbankan juga menunjukkan ketahanan yang kuat dengan rasio kecukupan modal yang memadai.