TREN.BISNISMARKET.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren pelemahan pada sesi pertama perdagangan hari Selasa, 26 Mei 2026. Penurunan indeks tercatat sebesar 0,69 persen, membawa level IHSG ke posisi 6.163 pada penutupan sesi I.

Pergerakan negatif pada IHSG ini secara langsung berdampak pada saham-saham unggulan di bursa domestik. Dua bank terbesar di Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), terpantau berbalik arah dan masuk ke zona merah.

Perubahan performa ini kontras dengan kondisi sehari sebelumnya, yakni pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026. Pada hari tersebut, saham BBRI tercatat berhasil menguat sebesar 3,93 persen, sementara saham BBCA juga mencatatkan kenaikan signifikan 3,39 persen.

Namun, pada sesi I hari Selasa ini, sentimen pasar berubah drastis. Saham BBRI mengalami tekanan jual yang cukup kuat, tergerus 2,21 persen hingga menyentuh harga Rp 3.100. Sementara itu, saham BBCA juga ikut menyusut 1,23 persen, ditutup pada level Rp 6.025 pada paruh pertama perdagangan.

Koreksi yang dialami oleh saham-saham sektor perbankan ini dikaitkan erat dengan perkembangan nilai tukar mata uang domestik. Tercatat, nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan sejak pasar spot dibuka pada pagi hari.

Menurut data Bloomberg yang dihimpun saat berita ini disusun, rupiah melemah tipis 13 poin atau setara 0,07 persen. Posisi rupiah tercatat berada di level Rp 17.757 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB.

Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari penutupan sebelumnya, di mana rupiah sempat melorot 27 poin hingga mencapai posisi Rp 17.744 per dolar AS. Tekanan pada mata uang domestik ini seringkali menjadi indikator sentimen negatif bagi investor pasar modal.

Sentimen negatif yang memicu kejatuhan saham BBRI dan BBCA tidak hanya berhenti pada kedua emiten tersebut. Saham-saham perbankan besar lainnya juga ikut merasakan tekanan jual yang serupa selama paruh pertama sesi perdagangan.

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga dilaporkan bergerak di bawah tekanan pasar. Tekanan ini terjadi seiring dengan pergerakan indeks dolar AS yang tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,17 persen ke level 99.070.