TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia tengah menghadapi dinamika perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang menunjukkan tingginya minat investasi, terlihat dari adanya rencana ekspansi di tiga lokasi utama. Tiga KEK yang mengajukan perluasan area tersebut adalah Kendal, Gresik, dan Galang Batang, sebagaimana disampaikan oleh sumber resmi.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyarankan agar pemerintah melakukan evaluasi mendalam terhadap skema insentif pajak yang selama ini diterapkan pada KEK. Saran ini muncul seiring dengan besarnya permintaan dari calon investor untuk memperluas kapasitas kawasan yang sudah ada.

Menurut Yusuf, langkah perluasan di ketiga wilayah tersebut merupakan kebijakan yang masuk akal dan efisien, karena fokus pada kawasan yang terbukti diminati pasar. Hal ini lebih baik dibandingkan harus membangun KEK baru dari nol dengan harapan menarik investor datang.

Dilansir dari Bisnis.com, Yusuf Rendy Manilet menyampaikan pandangannya mengenai urgensi peninjauan kebijakan fiskal tersebut. Ia menilai bahwa jika permintaan sudah membeludak, insentif yang diberikan mungkin sudah tidak relevan lagi.

"Pemerintah perlu mengevaluasi apakah insentif sebesar sekarang masih benar-benar dibutuhkan, atau justru sudah menjadi subsidi bagi investasi yang sebenarnya tetap akan masuk tanpa adanya insentif tersebut," ujar Yusuf Rendy Manilet kepada Bisnis pada Minggu, 5 Juli 2026.

Meskipun biaya pengembangan fisik perluasan KEK ditanggung oleh Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) serta investor sehingga tidak memberatkan APBN, terdapat biaya fiskal dari sisi penerimaan negara. Biaya fiskal ini timbul akibat pemberian fasilitas tax holiday atau pembebasan pajak bagi perusahaan di dalam KEK.

Yusuf juga menyoroti bahwa dampak ekonomi dari ekspansi ini tidak akan seragam di setiap wilayah KEK yang diperluas. Sebagai contoh, KEK Kendal yang didominasi industri manufaktur padat karya diprediksi memiliki daya serap lapangan kerja yang masif.

Sebaliknya, KEK Galang Batang yang berfokus pada smelter dan industri pengolahan mineral merupakan industri padat modal, sehingga nilai investasinya diprediksi besar namun penyerapan tenaga kerjanya relatif terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa investasi besar tidak selalu berbanding lurus dengan manfaat ekonomi luas bagi masyarakat lokal.

Lebih lanjut, Core Indonesia mengingatkan adanya risiko memperkuat sentralisasi Jawa. Perluasan KEK yang mayoritas berada di Pulau Jawa dikhawatirkan dapat mengaburkan tujuan awal pembentukan KEK sebagai instrumen pemerataan ekonomi nasional.