TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada hari Senin, 8 Juni 2026, ditandai dengan aksi jual bersih signifikan oleh investor asing, seiring dengan ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga lebih dari 4%.

Namun, sebuah dinamika menarik terungkap di tengah tekanan pasar yang kuat tersebut, di mana investor asing justru terlihat aktif mengakumulasi saham-saham yang dikenal memiliki volatilitas atau risiko pergerakan harga yang tinggi.

Data perdagangan menunjukkan bahwa secara keseluruhan, investor asing mencatatkan net sell (jual bersih) sebesar Rp447,1 miliar di seluruh pasar saham domestik. Total nilai transaksi pada hari itu mencapai angka fantastis, yakni Rp21,43 triliun.

Meskipun tren penjualan mendominasi, beberapa saham tertentu justru mengalami pembelian bersih (net foreign buy) oleh investor asing. Mayoritas saham yang diburu ini berasal dari sektor komoditas, energi, serta saham-saham yang memiliki karakteristik pergerakan agresif di pasar.

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi primadona asing pada hari itu, mencatatkan net foreign buy terbesar dengan nilai mencapai Rp258,4 miliar. Hal ini menunjukkan adanya minat spesifik pada saham emiten tersebut di tengah koreksi pasar.

Posisi kedua dan ketiga saham yang paling banyak dibeli asing ditempati oleh emiten batu bara, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan pembelian bersih Rp133,1 miliar, diikuti oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar Rp133,1 miliar.

Selain itu, ada beberapa saham perbankan dan sektor lainnya yang juga masuk dalam daftar pembelian asing, termasuk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang dibeli bersih senilai Rp37,9 miliar. Kemudian diikuti oleh PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sebesar Rp30,3 miliar, dan PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP) senilai Rp29,1 miliar.

Pada penutupan perdagangan hari itu, IHSG mengalami pelemahan signifikan, terperosok 4,52% dan berakhir di level 5.342,14. Koreksi ini membawa indeks mengalami penurunan sekitar 38% sejak awal tahun 2026.

Pelemahan tersebut semakin terlihat parah jika diukur dari posisi puncak yang dicapai pada Januari 2026, di mana IHSG telah terjun lebih dari 41% dari titik tertingginya.