TREN.BISNISMARKET.COM - Pasar modal Indonesia tengah menyoroti pergerakan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyusul pengumuman hasil rebalancing indeks MSCI pada hari Rabu, 13 Mei 2026. Kedua emiten ini menjadi pusat perhatian karena diproyeksikan menghadapi tekanan jual atau outflow besar dari investor pasif.

Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia mengidentifikasi bahwa tekanan jual tersebut berasal dari penyesuaian portofolio dana indeks dan ETF yang mengacu pada kriteria MSCI. Proyeksi ini menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam kepemilikan asing menjelang tanggal implementasi penyesuaian indeks.

Menurut analisis tersebut, saham DSSA diperkirakan mengalami arus modal keluar (outflow) sekitar Rp 9 triliun, berdasarkan kapitalisasi pasar penyesuaian MSCI yang mencapai Rp 66,1 triliun. Angka ini menempatkan DSSA sebagai salah satu yang paling terdampak secara nominal.

Sementara itu, BREN juga diproyeksikan mengalami tekanan jual yang substansial, dengan estimasi outflow mencapai Rp 6 triliun. Kapitalisasi pasar penyesuaian FIF untuk BREN sendiri tercatat sebesar Rp 42,1 triliun, menunjukkan bobot besar saham tersebut dalam konteks rebalancing kali ini.

"Artinya, lebih dari separuh tekanan MSCI sebenarnya hanya bertumpu pada dua saham tersebut," tulis tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Dikutip dari Investor Daily, Kiwoom Sekuritas menambahkan bahwa emiten lain seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga merasakan dampak penyesuaian tersebut. Namun, dampaknya dinilai lebih terbatas mengingat kapitalisasi pasar saham-saham tersebut sudah mengalami koreksi sejak awal tahun berjalan.

"Karena itu, estimasi foreign outflow kini mulai terlihat lebih realistis dibandingkan panic scenario awal yang sempat mengarah ke Rp 50 triliun lebih," sebut Kiwoom Sekuritas.

Perkiraan total arus modal keluar dari pasar Indonesia bervariasi di antara para analis pasar. Joeliardi Sunendar memproyeksikan angka total antara Rp 27,8 triliun hingga Rp 31 triliun, sementara CGS International memiliki estimasi yang sedikit lebih tinggi di Rp 31,5 triliun.

Bahkan, dalam skenario terburuk, Citi memprediksi potensi outflow secara keseluruhan bisa mencapai angka Rp 34,7 triliun, menggarisbawahi sensitivitas pasar terhadap keputusan indeks global.