TREN.BISNISMARKET.COM - Harga gas bumi yang dihasilkan dari Proyek LNG Abadi Masela masih dalam tahap finalisasi, namun kepastian pasokan untuk industri dalam negeri mulai terkuak. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan sinyal positif terkait harga yang akan diterima oleh sektor pengguna Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).
Proyek yang berlokasi di Kepulauan Tanimbar, Maluku, ini memegang peranan penting dalam peta energi nasional. Proyek Abadi Masela diproyeksikan mampu memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, sebuah angka signifikan yang setara dengan lebih dari 10% kebutuhan impor LNG Jepang.
Selain produksi LNG, fasilitas ini juga akan mengakomodasi pasokan gas pipa sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) dan 35.000 barel kondensat per hari (bcpd). Pengembangan blok yang dikelola oleh Inpex Masela, Ltd. ini mencakup infrastruktur canggih, termasuk fasilitas bawah laut dan sumur injeksi CO2 untuk mendukung teknologi penangkapan karbon (CCS).
"Yang jelas untuk pupuk itu kemarin kita sudah dapat kurang lebih sekitar US$6 sampai US$7 per MMBtu," ungkap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat ditemui usai acara peresmian groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Kamis (16/7/2026).
Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan bahwa untuk harga gas pipa yang ditujukan bagi industri pengguna HGBT, seperti sektor pupuk, dari Blok Masela akan ditetapkan pada kisaran US$6 hingga US$7 per million British thermal unit (MMBtu).
Mengenai harga LNG dari Blok Masela, Bahlil menyatakan bahwa penentuannya akan mengacu pada formulasi yang mengikuti pergerakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP).
"LNG-nya memang dia akan memakai formulasi ICP. Tetapi yang saya inginkan adalah proses bahan bakunya dari sini sekalipun nilai rendah tapi multiplier effect, nilai tambahnya akan terjadi di sini," jelas Menteri Bahlil.
Proyek LNG Abadi Masela merupakan salah satu investasi energi terbesar yang sedang berjalan di Indonesia, dengan estimasi total investasi mencapai US$20,9 miliar atau sekitar Rp376 triliun. Hal ini menempatkannya sebagai mega proyek strategis di sektor energi.
Arah kebijakan pemerintah terhadap Proyek Abadi kini mengalami pergeseran. Jika sebelumnya lebih berorientasi ekspor, kini porsi untuk kebutuhan domestik menjadi perhatian utama seiring dengan meningkatnya permintaan energi nasional.