TREN.BISNISMARKET.COM - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) baru-baru ini merilis data komprehensif mengenai realisasi penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hingga paruh pertama tahun 2026.

Hingga tanggal 30 Juni 2026, penyaluran minyak solar bersubsidi, yang juga dikenal sebagai Jenis BBM Tertentu (JBT), telah mencapai angka signifikan. Volume yang tersalurkan adalah sebesar 9,48 juta kiloliter.

Angka tersebut merepresentasikan 50,85% dari total kuota solar bersubsidi yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk tahun 2026, yaitu sebesar 18,64 juta kiloliter.

Perlu dicatat bahwa penyaluran solar bersubsidi ini tercatat sebagai yang tertinggi di antara jenis BBM bersubsidi dan kompensasi lainnya yang disalurkan sepanjang periode tersebut.

"Untuk penyaluran distribusi minyak solar realisasinya mencapai 9,48 juta kiloliter atau tersalur 50,85% dari kuota yang ditetapkan pemerintah sebesar 18,64 juta kiloliter," ujar Kepala BPH Migas Wahyudi Anas dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI yang dipantau secara daring, Kamis (16/7/2026).

Lonjakan konsumsi solar bersubsidi ini, menurut Kepala BPH Migas, tidak terlepas dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Perubahan ini terjadi setelah pemerintah melakukan penyesuaian harga pada sejumlah jenis BBM nonsubsidi.

"Menurutnya, sebagian pengguna BBM nonsubsidi beralih ke BBM subsidi, terutama pada segmen solar," jelas Wahyudi Anas.

Ia menambahkan bahwa fenomena peralihan ini sangat terlihat pasca kenaikan harga BBM jenis umum seperti Dex Series dan Pertamax. "Posisi kenaikan saat ini memang di sektor solar. Ini pascakenaikan jenis bahan bakar umum, baik Dex Series kemudian Pertamax dan lain-lain. Terjadi kenaikan di mana masyarakat cenderung yang semula menggunakan BBM nonsubsidi beralih menjadi subsidi," katanya.

Sementara itu, realisasi penyaluran minyak tanah hingga periode yang sama tercatat sebesar 0,26 juta kiloliter. Angka ini setara dengan 48,91% dari kuota tahunan minyak tanah bersubsidi yang sebesar 0,53 juta kiloliter.