TREN.BISNISMARKET.COM - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengambil langkah proaktif dengan memberikan sejumlah relaksasi kepada industri farmasi nasional. Kebijakan ini dikeluarkan sebagai respons terhadap tren kenaikan harga obat yang dipicu oleh gejolak ekonomi global saat ini.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa pihaknya sebagai regulator berupaya tanggap terhadap tekanan yang dihadapi perusahaan farmasi. Salah satu tantangan utama yang dihadapi industri adalah terkait pengadaan bahan baku yang sebagian besar masih bergantung pada impor.
"Industri farmasi ini karena kita melihat tetap terdampak, tetapi ada satu hal karena Badan POM sebagai regulator yang berhubungan dengan farmasi cepat tanggap, kita memberikan relaksasi-relaksasi tertentu kepada industri perusahaan besar farmasi," kata Taruna saat ditemui Bisnis usai rapat dengar pendapat Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (15/7/2026).
Salah satu bentuk insentif yang diberikan BPOM adalah kemudahan bagi perusahaan farmasi untuk beralih sumber bahan baku. Perubahan ini kini dapat dilakukan tanpa melalui prosedur birokrasi yang panjang dan membebani sebelumnya.
Sebelumnya, perpindahan sumber bahan baku memerlukan serangkaian pengujian yang memakan waktu. Hal ini kerap dimanfaatkan oleh pemasok global untuk menaikkan harga jual bahan baku mereka.
"Dulunya kalau dia mau alihkan bahan bakunya misalnya dari Belanda dialihkan ke misalnya pindah ke India, dia harus melakukan berbagai macam uji, uji stability, uji availability dan berbagai macam persyaratan. Dan itu diketahui sama industri luar negeri, sehingga kalau dia mau kasih kirim bahan bakunya, dia kasih naik harganya," ujar Taruna.
Dengan adanya relaksasi aturan pengujian, industri farmasi dalam negeri kini memiliki posisi tawar yang lebih kuat terhadap pemasok global. Fleksibilitas ini memungkinkan mereka mencari alternatif bahan baku yang lebih kompetitif dari segi harga.
Hal ini juga memungkinkan perusahaan untuk mencari alternatif bahan baku yang lebih kompetitif secara harga tanpa harus mengorbankan standar kualitas produk akhir. Kualitas obat tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan pengadaan.
"Tapi dengan kita memberikan relaksasi dia bisa beralih ke tempat lain, dia juga takut-takut dari tempat itu untuk tidak ngirim ke Indonesia. Jadi itu menguntungkan, dari itu setidaknya bisa mengontrol kenaikan harga obat agar jangan terlalu berlebihan," jelas Taruna.