TREN.BISNISMARKET.COM - Pergeseran pola konsumsi masyarakat dari bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi ke jenis bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar kini mulai memberikan tekanan pada peta distribusi energi nasional. Fenomena ini terjadi menyusul penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada April 2026.
Lonjakan konsumsi BBM subsidi ini tidak hanya memicu antrean di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di berbagai daerah, tetapi juga meningkatkan beban pada rantai distribusi yang ada. Pemerintah pun bergerak cepat untuk mengevaluasi ketersediaan BBM secara nasional di tengah perubahan preferensi konsumen ini.
Meskipun antrean terjadi di beberapa wilayah, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan disebabkan oleh keterbatasan pasokan. Ia memastikan stok BBM nasional saat ini berada dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Evaluasi yang dilakukan pemerintah saat ini lebih difokuskan pada upaya percepatan distribusi dari terminal terpadu menuju SPBU. Tujuannya adalah agar pasokan BBM dapat segera menjangkau wilayah-wilayah yang mengalami lonjakan permintaan secara signifikan.
"Dari Kementerian ESDM sudah minta Kepala BPH Migas untuk melakukan pengecekan bersama PT Pertamina," ujar Yuliot Tanjung di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Kamis (16/7/2026), menanggapi pertanyaan wartawan mengenai laporan antrean panjang BBM subsidi di SPBU.
Yuliot Tanjung mengakui adanya persoalan antrean di sejumlah daerah, khususnya yang berada di kawasan Sumatra. Namun, ia kembali menjamin bahwa persediaan BBM secara nasional saat ini dipastikan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat.
Dalam sebuah rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, PT Pertamina Patra Niaga mencatat adanya tren masyarakat yang meninggalkan BBM beroktan tinggi dan beralih menggunakan BBM bersubsidi. Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, membenarkan adanya antrean dan aksi pembelian berlebihan atau panic buying di beberapa daerah akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi.
"Pada beberapa waktu terakhir masih terjadi antrean dan pembelian secara berlebihan atau panic buying di beberapa wilayah di Sumatra secara umum, yang juga dipengaruhi oleh kenaikan ataupun shifting dari konsumsi BBM kepada BBM bersubsidi, yaitu Pertalite dan Solar," kata Taufik Aditiyawarman.
Pertamina Patra Niaga mencatat peningkatan konsumsi Pertalite sepanjang Juli 2026 melonjak sekitar 9,4% atau setara 7.129 kiloliter per hari dibandingkan rata-rata normal. Sementara itu, konsumsi Biosolar naik hampir 13,9%. Sebaliknya, konsumsi Pertamax Series justru turun sekitar 18%, dan Dex Series serta produk sejenisnya mengalami penyusutan sekitar 6,4%.