TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan bursa Asia memulai pekan ini dengan pergerakan yang bervariasi, mencerminkan tingkat kewaspadaan investor yang meningkat terhadap perkembangan isu geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sentimen pasar global secara umum memasuki pekan dengan kehati-hatian tinggi.
Mayoritas pelaku pasar saat ini memfokuskan perhatian pada kenaikan harga minyak dunia yang berkelanjutan, sekaligus menunggu data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis. Data inflasi tersebut dinilai sangat krusial dalam menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) ke depan.
Di Jepang, Indeks Nikkei 225 menunjukkan performa yang cukup kuat dibandingkan kawasan lainnya. Indeks tersebut berhasil mencatat kenaikan signifikan, mencapai 631,74 poin atau 0,89%, hingga level 71.881,80 pada pukul 09.30 waktu Tokyo.
Sebaliknya, pasar saham utama di Tiongkok, seperti Indeks Shanghai Composite, belum menunjukkan dinamika perubahan berarti. Indeks tersebut tercatat stagnan di level 4.090,481, tidak berbeda dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
Indeks Shenzhen Component di Tiongkok juga mengalami kondisi serupa, yakni stagnan pada posisi 16.030,702, menandakan pasar yang sedang menimbang sentimen yang ada. Sementara itu, Indeks Hang Seng Hong Kong juga belum mencatatkan pergerakan substansial dan bertahan di level 8.815,30.
Berbeda dengan Jepang, pasar saham Australia justru bergerak dalam zona merah, menunjukkan adanya tekanan jual. Indeks S&P/ASX 200 tercatat mengalami penurunan sebesar 13,40 poin atau 0,15% pergerakannya, berakhir di level 8.815,30.
Tekanan jual yang lebih terasa terlihat di Korea Selatan, di mana Indeks KOSPI mengalami pelemahan cukup dalam. Indeks KOSPI melemah 71,34 poin atau 0,79% dan berada di posisi 8.981,08 pada periode perdagangan tersebut.
Di kawasan Asia Tenggara, situasi serupa terjadi pada Indeks Straits Times Index (STI) Singapura, yang juga mengalami penurunan. STI turun sebanyak 20,14 poin atau 0,39%, menempatkannya di posisi 5.192,70.
Dikutip dari CNBC Internasional, pergerakan harga energi menunjukkan arah yang berbeda, dengan harga minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) melonjak hampir 3% mendekati US$78 per barel. Minyak Brent, sebagai patokan global, juga menguat lebih dari 1% ke kisaran US$81 per barel.