TREN.BISNISMARKET.COM - Harga minyak mentah dunia kembali melampaui ambang batas psikologis US$100 per barel, menandai pertama kalinya dalam dua bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kembali membayangi pasokan minyak global.

Perdagangan pada Jumat, 24 Juli 2026, menyaksikan harga minyak acuan Brent melonjak dari kisaran US$95 per barel menjadi di atas US$100 per barel. Pelaku pasar kini diselimuti kekhawatiran akan potensi gangguan pada dua jalur distribusi minyak paling krusial di dunia, yaitu Laut Merah dan Selat Hormuz.

Kenaikan harga ini disebut-sebut dipicu oleh serangan kelompok Houthi yang terafiliasi dengan Iran terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi, Encelia dan Layla. Serangan tersebut dilaporkan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone, bahkan menyebabkan salah satu kapal mengalami kebakaran.

Kelompok Houthi mengklaim serangan tersebut sebagai respons terhadap dugaan pelanggaran blokade laut yang mereka berlakukan di wilayah Laut Merah oleh kedua kapal tanker tersebut.

Bersamaan dengan itu, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait lalu lintas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali memanas. Situasi ganda ini menimbulkan kekhawatiran serius akan adanya gangguan simultan pada dua jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia.

Pasar kini mulai memperhitungkan skenario di mana harga minyak berpotensi merangkak naik menuju kisaran US$120 per barel apabila konflik di kawasan tersebut semakin meluas. Kekhawatiran ini mengingatkan para pelaku pasar pada April lalu, ketika harga minyak sempat melonjak hingga sekitar US$126 per barel akibat memanasnya konflik di Teluk.

Sebelumnya, harga minyak sempat terkoreksi di bawah US$100 pada akhir Mei dan bahkan menyentuh US$71 per barel pada awal Juli, seiring adanya harapan gencatan senjata. Namun, kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran yang tidak berlanjut serta meningkatnya kembali eskalasi konflik membuat harga minyak kembali menunjukkan tren kenaikan.

Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyatakan bahwa pasar minyak sejauh ini masih terbantu oleh beberapa faktor yang mampu meredam gejolak harga. "Meski demikian, ia mengingatkan bahwa meningkatnya eskalasi konflik membuat pasar tidak boleh lengah terhadap potensi gangguan pasokan," ujar Fatih Birol.

Lonjakan harga minyak ini turut memicu kekhawatiran baru mengenai inflasi global. Investor mulai mengantisipasi bahwa kenaikan biaya energi dapat memperlambat upaya penurunan inflasi dan berpotensi memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi lebih lama.