TREN.BISNISMARKET.COM - Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi adanya sejumlah sektor strategis di Indonesia yang belum optimal menerima aliran kredit dari perbankan. Padahal, sektor-sektor ini dinilai memiliki potensi signifikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional serta menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa hasil asesmen internal bank sentral menunjukkan setidaknya ada empat sektor yang pertumbuhan kreditnya masih berada di bawah potensinya. Keempat sektor tersebut meliputi sektor pertanian, perdagangan, pengangkutan atau logistik, serta industri pengolahan.
"Memang kita melihat masih ada beberapa sektor yang pertumbuhan kreditnya itu masih di bawah potensialnya, dan kami juga sudah mulai melakukan asesmen di beberapa sektor yang memang mempunyai ruang pertumbuhan kredit yang masih cukup tinggi, yakni pertanian, perdagangan, pengangkutan (logistik), dan industri pengolahan," kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/7/2026).
Menurut Destry, sektor-sektor ini masih menyimpan ruang ekspansi yang besar karena kebutuhan pembiayaannya belum sepenuhnya terpenuhi oleh sektor perbankan. Di samping itu, sektor-sektor tersebut juga menjadi prioritas pemerintah dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
"Sektor-sektor ini sebenarnya masih punya ruang untuk tumbuh, terutama kalau kita lihat di sektor pertanian, pengangkutan, dan perdagangan yang kredit gapnya itu masih besar," ujarnya.
Besarnya kesenjangan kredit atau _credit gap_ ini mengindikasikan adanya selisih antara kebutuhan pembiayaan yang diajukan oleh pelaku usaha dan realisasi kredit yang berhasil mereka terima. Oleh karena itu, BI menilai peluang untuk meningkatkan penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas ini masih sangat terbuka lebar.
Untuk mengakselerasi penyaluran pembiayaan, BI terus berupaya mengoptimalkan berbagai instrumen insentif likuiditas makroprudensial (KLM). Langkah strategis ini diharapkan dapat memotivasi perbankan agar lebih agresif dalam menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif yang memiliki efek berganda besar bagi perekonomian.
"Jadi artinya, ini masih mempunyai ruang untuk ditingkatkan kreditnya kepada sektor-sektor tersebut," kata Destry.
Peningkatan dorongan pembiayaan ke sektor pertanian, perdagangan, logistik, dan industri pengolahan dianggap sangat penting. Hal ini mengingat kontribusi besar sektor-sektor tersebut terhadap aktivitas ekonomi domestik sekaligus kemampuannya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.