TREN.BISNISMARKET.COM - Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Cili kini memasuki fase krusial dengan upaya mempercepat perundingan sektor investasi di bawah kerangka Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Cili (IC-CEPA). Langkah ini diambil setelah perjanjian perdagangan barang berlaku sejak 2019 dan kesepakatan perdagangan jasa dijadwalkan mulai diimplementasikan pada 2025.

Pemerintah Indonesia melihat perluasan cakupan IC-CEPA sebagai strategi penting untuk membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih besar. Selain itu, langkah ini diharapkan dapat memperkuat hubungan bisnis antara pelaku usaha dari kedua negara.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa implementasi IC-CEPA dilakukan secara bertahap sesuai prioritas. Setelah fokus pada perdagangan barang dan jasa, kini perhatian dialihkan pada penyelesaian perundingan investasi yang telah diluncurkan pada tahun 2024.

"Perundingan dan implementasi IC-CEPA kami lakukan bertahap berdasarkan prioritas," ujar Budi Santoso. "Kami harap, perundingan sektor investasi bisa diselesaikan secara intensif melalui serangkaian pertemuan virtual tahun ini. Kami harapkan hasil perundingan yang cepat, seimbang, dan berorientasi jangka panjang."

Untuk mendorong pemanfaatan IC-CEPA lebih jauh, pemerintah juga mengusulkan pembentukan sebuah business council. Forum ini diharapkan dapat mempertemukan eksportir, importir, dan investor dari kedua negara, sehingga kerja sama bisnis dapat berkembang lebih konkret melampaui sekadar pengurangan tarif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang diolah Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Perdagangan, nilai perdagangan Indonesia dengan Cili menunjukkan tren peningkatan dalam lima tahun terakhir. Total perdagangan bilateral tercatat US$424,6 juta pada 2021, naik menjadi US$587,5 juta pada 2022, dan menguat menjadi US$535,5 juta pada 2025.

Selama periode 2021-2025, nilai perdagangan bilateral mencatat pertumbuhan positif sebesar 2,58%, didominasi oleh sektor nonmigas. Ekspor Indonesia ke Cili menunjukkan peningkatan signifikan, dari US$259,4 juta pada 2021 menjadi US$441,5 juta pada 2025, dengan pertumbuhan rata-rata 10,76%.

Sebaliknya, impor Indonesia dari Cili mengalami tren penurunan. Nilai impor tercatat US$165,2 juta pada 2021, namun terus menurun hingga hanya US$94 juta pada 2025, mencatat tren penurunan sebesar 15,31% dalam lima tahun terakhir.

Produk utama ekspor Indonesia ke Cili meliputi kendaraan bermotor, pupuk mineral dan kimia, serta alas kaki. Sementara itu, Indonesia mengimpor ikan beku, bubur kayu (pulp), pupuk, pati, dan anggur dari Cili.