TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia menyatakan dengan tegas bahwa ketahanan pangan nasional tidak akan terganggu oleh fenomena El Nino yang diprediksi akan melanda. Langkah-langkah penguatan cadangan pangan pemerintah (CPP) untuk komoditas strategis telah dilakukan secara masif.

Di tengah kekhawatiran yang meningkat mengenai potensi dampak cuaca ekstrem, pemerintah melalui Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga mengimbau para petani untuk tidak menunda musim tanam. Hal ini didasarkan pada penilaian bahwa stok pangan nasional saat ini berada pada level yang sangat aman.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa antisipasi terhadap potensi El Nino telah dilakukan sejak beberapa bulan lalu. Penguatan cadangan meliputi beras, jagung pakan, minyak goreng, gula konsumsi, hingga daging ayam.

"Sekarang alhamdulillah, ini atas arahan Bapak Presiden. Kemarin kita kejar-kejaran El Nino. Tidak usah khawatir. El Nino yang dulu lebih dahsyat daripada sekarang," ujar Andi Amran Sulaiman dalam keterangan resminya pada Selasa, 21 Juli 2026.

Amran Sulaiman juga menekankan pentingnya menjaga narasi agar prediksi mengenai El Nino tidak disampaikan secara berlebihan. Hal ini bertujuan untuk menghindari dampak psikologis negatif terhadap petani yang dapat memengaruhi keputusan mereka untuk melakukan penanaman.

"Saya sering katakan hati-hati. Kenapa? Petani takut tanam. Tolong pikirkan dampaknya. Ini ada El Nino Godzilla, bulan empat ternyata banjir. Alhamdulillah tidak jadi tetapi bisa membuat petani takut tanam," katanya.

Berdasarkan data Bapanas per 20 Juli 2026, cadangan beras yang dikelola Perum Bulog tercatat sebesar 5,24 juta ton. Selain itu, pemerintah daerah juga memiliki cadangan pangan sebanyak 7,35 ribu ton di tingkat provinsi dan 13,15 ribu ton yang tersebar di 323 kabupaten/kota.

Untuk komoditas pakan ternak, pemerintah memiliki cadangan jagung sekitar 176 ribu ton yang disalurkan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) bagi peternak unggas. Cadangan minyak goreng tercatat sekitar 1.000 kiloliter, gula konsumsi sekitar 2,79 ribu ton, dan daging ayam sebanyak 38 ton.

Sementara itu, kebutuhan komoditas yang mudah rusak seperti cabai, bawang merah, dan telur ayam ras dipastikan dapat terpenuhi dari produksi dalam negeri. Indonesia masih mencatat surplus produksi untuk komoditas-komoditas tersebut sepanjang tahun.