TREN.BISNISMARKET.COM - Ketahanan eksternal Indonesia belakangan ini menjadi sorotan serius dari lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings dan Fitch Ratings. Tekanan pada nilai tukar Rupiah, yang terus melemah, dikhawatirkan dapat memicu penurunan peringkat kredit negara jika tidak segera diatasi.
Kondisi ini dipicu oleh pelebaran defisit neraca pembayaran yang signifikan. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), neraca pembayaran Indonesia pada kuartal I/2026 mencatat defisit sebesar US$9,1 miliar, angka terburuk sejak kuartal I/2024.
Defisit ini berbanding terbalik dengan kondisi kuartal sebelumnya, di mana pada kuartal IV/2025 tercatat surplus US$6,1 miliar. Selama tahun 2025, neraca pembayaran Indonesia juga mengalami defisit sebesar US$7,8 miliar, dengan tren defisit terjadi selama tiga kuartal berturut-turut.
Anggaran Makan Bergizi Gratis Dipangkas: BGN Ungkap Efisiensi Lewat Tata Kelola dan Refocusing
Penurunan cadangan devisa juga menjadi indikator kekhawatiran. Posisi cadangan devisa pada kuartal I/2026 tercatat US$148,1 miliar, angka terendah sejak kuartal I/2024. Akumulasi penurunan cadangan devisa selama lima bulan pertama 2026 mencapai US$9 miliar.
Tekanan pada cadangan devisa ini utamanya disebabkan oleh penurunan nilai ekspor dan lonjakan nilai impor, terutama sektor minyak dan gas. Akibatnya, neraca dagang Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus enam tahun berturut-turut.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) harus mengintervensi pasar keuangan secara intensif untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah. Upaya stabilisasi ini turut menggerus cadangan devisa yang ada.
S&P Global Ratings memasukkan risiko ketahanan eksternal Indonesia sebagai salah satu dari tiga skenario potensial penurunan peringkat kredit. Meskipun peringkat Indonesia saat ini dipertahankan pada BBB dengan prospek Stabil, peringatan tersebut tetap disampaikan.
"Kami dapat menurunkan peringkat jika kami meyakini bahwa satu atau lebih dari perkembangan berikut ini kemungkinan akan terjadi: [...] Penerimaan ekspor melambat secara struktural, yang mendorong kebutuhan pembiayaan eksternal bruto secara konsisten di atas tingkat yang setara dengan jumlah penerimaan neraca transaksi berjalan dan cadangan yang dapat digunakan," demikian penilaian S&P yang dipublikasikan awal pekan ini, dikutip pada Senin (20/7/2026).
S&P memproyeksikan defisit neraca transaksi berjalan dapat melebar menjadi 2,1% terhadap PDB pada 2026, melampaui proyeksi BI. Hal ini disebabkan oleh berbaliknya neraca perdagangan barang menjadi defisit pada Mei 2026.