TREN.BISNISMARKET.COM - Harga beras di Indonesia dilaporkan terus mengalami kenaikan tanpa jeda selama enam bulan berturut-turut, dari Januari hingga Juni 2026. Fenomena ini terjadi di tingkat produsen (penggilingan), pedagang (grosir), maupun konsumen (eceran), menimbulkan ironi di tengah klaim stok beras yang melimpah di Bulog.
Kenaikan harga beras ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Dengan jumlah uang yang sama, warga kini mendapatkan volume beras yang lebih sedikit, membuat kantong mereka terasa "bolong" dan terimpit dalam memenuhi kebutuhan pokok.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 Juli 2026 menunjukkan adanya kenaikan harga beras. Dari Mei ke Juni 2026, harga di penggilingan naik 0,97%, di grosir 0,82%, dan di eceran 0,45%. Secara tahunan, kenaikan di penggilingan mencapai 6,96%, di grosir 5,12%, dan di eceran 3,98%.
Selama enam bulan berturut-turut, beras telah menjadi penyumbang inflasi rutin. Situasi ini kontras dengan hukum besi pasokan-permintaan yang seharusnya membuat harga terkendali, bahkan berpotensi deflasi, saat terjadi panen raya.
"Berbilang hari, pekan, dan bulan. Seperti layang-layang putus: harga beras sulit dijinakkan," demikian opini yang disampaikan dalam artikel asli.
Kondisi ini menandakan kembalinya beras sebagai biang keladi inflasi, sebuah perkembangan yang menuntut perhatian serius dari otoritas pengendali inflasi. Target inflasi tahunan sebesar 2,5-3,5% kini terancam sulit tercapai, mengingat inflasi tahun berjalan hingga Juni 2026 telah mencapai 3,34%.
"Hingga Juni 2026, inflasi tahun berjalan sudah mencapai 3,34%. Tahun kalender masih setengah perjalanan," ujar sumber dalam artikel asli.
Peningkatan harga komoditas pangan bergejolak, termasuk beras, masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Komoditas ini menyumbang 40,7% dari total inflasi 3,34% yang terjadi hingga Juni 2026.
"Pengendalian inflasi harga bergejolak (volatile foods) masih menjadi pekerjaan rumah yang jauh dari selesai," ungkap sumber dalam artikel asli.