TREN.BISNISMARKET.COM - Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan mengalami penurunan tajam setelah kebijakan blokade yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump mulai berlaku. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru mengenai kelancaran pasokan energi global.

Penurunan aktivitas pelayaran ini, sebagaimana dilaporkan oleh CNBC International pada Selasa (21/7/2026), terjadi menyusul serangkaian serangan AS terhadap Iran. Keputusan Teheran untuk memberlakukan larangan menyeluruh terhadap lalu lintas maritim, ditambah serangan baru terhadap kapal komersial, mendorong operator pelayaran untuk mengevaluasi ulang risiko saat melintasi kawasan Teluk.

Data dari Lloyd’s List Intelligence mencatat bahwa hanya 53 kapal yang melintas di Selat Hormuz dalam sepekan hingga 20 Juli 2026. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan sebesar 66% dibandingkan dengan pekan sebelumnya yang mencatat 157 kapal.

Penurunan yang paling mencolok terlihat pada kapal tanker dan pengangkut gas, yang merupakan moda utama pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk. Jumlah lintasan kedua jenis kapal tersebut merosot menjadi 30 kali dari sebelumnya 90 kali.

Sementara itu, data dari Kpler menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran mulai melemah hampir segera setelah blokade diberlakukan. Sebelum 15 Juli, rata-rata lebih dari 20 kapal melintas setiap hari, namun angka ini turun menjadi 16 kapal pada 15 Juli dan merosot ke angka satu digit pada 16 Juli.

Aktivitas pelayaran tetap berada pada level rendah sepanjang pekan berikutnya, meskipun sempat terjadi pemulihan terbatas. Hal ini membalikkan tren normalisasi yang telah berlangsung selama beberapa pekan pasca-gencatan senjata pertengahan Juni, yang sebelumnya mendorong beberapa pemilik kapal untuk kembali mengoperasikan rute pelayaran menuju kawasan Teluk.

"Situasi melambat secara signifikan sejak ketegangan kembali meningkat. Hal itu tidak mengejutkan karena pelaku industri akan menarik diri dan melakukan evaluasi ulang terhadap risiko, seperti yang biasanya terjadi," ujar Analis Senior Risiko dan Kepatuhan Lloyd’s List Intelligence Bridget Diakun.

Meskipun demikian, aktivitas pelayaran belum sepenuhnya terhenti. Menurut Diakun, keputusan setiap operator kapal bergantung pada tingkat toleransi risiko masing-masing.

"Kami masih melihat kapal tanker melintas masuk dan keluar. Aktivitas belum sepenuhnya terhenti," katanya.