TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia menargetkan lonjakan nilai ekspor kopi nasional dari Rp40 triliun menjadi Rp100 triliun, bahkan berambisi mencapai Rp200 triliun. Angka fantastis ini diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan petani kopi di tengah tren kenaikan harga kopi dunia.
Namun, ambisi besar tersebut kini dihadapkan pada tantangan krusial di sektor hulu produksi. Kapasitas produksi nasional dinilai masih belum mampu mengimbangi tingginya permintaan global dan peluang pasar yang ada.
Rendahnya produktivitas kebun kopi, kualitas hasil panen yang belum optimal, serta minimnya regenerasi petani menjadi pekerjaan rumah yang mendesak. Ketiga faktor ini menjadi hambatan utama agar kopi Indonesia mampu bersaing ketat dengan negara produsen kopi utama seperti Brasil dan Vietnam.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melihat momentum kenaikan harga kopi dunia sebagai peluang emas untuk memperbesar volume ekspor. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pengembangan sentra produksi kopi dan penyediaan bibit unggul sebagai fondasi utama penguatan daya saing.
"Pemerintah telah menyiapkan pengembangan kawasan kopi di Aceh seluas sekitar 17.000 hektare dengan dukungan sekitar 17 juta batang bibit," ujar Amran. Program ini diproyeksikan mampu meningkatkan pendapatan para pekebun kopi hingga mencapai Rp4 triliun.
"Kopi ini sudah mendunia. Saya masih ingat ketika melakukan kunjungan ke Meksiko dan Argentina, saya bertemu Presiden Amerika Serikat ke-42 Bill Clinton. Yang dibahas justru Kopi Gayo. Saya terharu karena itu menunjukkan Kopi Gayo benar-benar sudah dikenal dunia. Karena itu kita harus terus membantu petani kopi, termasuk di Aceh," imbuh Amran.
"Bagaimana Kopi Gayo menggetarkan dunia. Bila perlu seluruh dunia mencicipi Kopi Gayo. Sekarang nilai ekspor kopi kita sudah mencapai sekitar Rp40 triliun. Ke depan harus kita dorong menjadi Rp100 triliun, bahkan kalau bisa Rp200 triliun. Potensinya sangat besar," katanya.
Amran menambahkan, lonjakan harga kopi dari sekitar Rp50.000 menjadi sekitar Rp110.000 per kilogram membuka peluang peningkatan pendapatan petani. Pemerintah juga berupaya memperkuat sistem ekspor agar Indonesia memiliki nilai tambah yang lebih besar di pasar global.
Sejalan dengan itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan bahwa pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp9,9 triliun untuk pengembangan sembilan komoditas perkebunan strategis, termasuk kopi, kakao, kelapa, pala, dan lada.