TREN.BISNISMARKET.COM - Perang di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga minyak dunia, yang berdampak langsung pada peningkatan tarif bahan bakar minyak (BBM). Fenomena ini semakin memperjelas sinyal berakhirnya era dominasi mobil bermesin bensin di pasar otomotif global.
Masyarakat di berbagai belahan dunia kini menunjukkan minat yang semakin besar untuk beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan, yaitu kendaraan listrik (EV). Perubahan ini terlihat nyata di Tiongkok, di mana layanan transportasi berbasis listrik mengalami lonjakan signifikan.
Sepanjang Mei 2026, sekitar separuh dari total 1,3 juta armada taksi di Tiongkok telah mengadopsi kendaraan listrik. Di kota-kota besar, angka ini bahkan mendekati 100%, menandakan penerimaan yang luar biasa terhadap teknologi hijau ini.
Data dari Kementerian Transportasi Tiongkok menunjukkan bahwa warga menyelesaikan 3,05 miliar perjalanan menggunakan moda transportasi online pada periode tersebut. Pertumbuhan layanan ride-sharing ini tercatat sebesar 6% sejak konflik Iran dimulai pada akhir Februari lalu, dibandingkan dengan periode Maret-Mei 2025.
Didi, aplikasi berbagi tumpangan terkemuka, melaporkan penambahan 2 juta mobil hibrida atau listrik pada tahun lalu, sehingga total armada non-bahan bakar fosilnya mencapai 8 juta unit. Kendaraan listrik sendiri telah menempuh 75% dari total jarak perjalanan yang dilayani oleh Didi.
Sebagai konsekuensinya, konsumsi bensin dan solar di Tiongkok pada Mei 2026 mengalami penurunan masing-masing sebesar 10% dan 14% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi meskipun volume angkutan barang melalui jalan raya meningkat 2% dan perjalanan darat selama libur panjang Hari Buruh mencapai rekor tertinggi.
"Seiring naiknya harga BBM, masyarakat makin jarang menggunakan mobil berbahan bakar bensin milik pribadi," ujar Daizong Liu, Direktur Asia Timur di Institute for Transportation & Development Policy di China.
"Konflik tersebut mungkin telah mempercepat perubahan perilaku yang sudah berlangsung, membuat China secara struktural kurang bergantung pada minyak daripada yang diasumsikan pasar secara historis," kata analis J.P. Morgan, Natasha Kaneva, dalam sebuah catatan pada 2 Juli.
Di benua Eropa, tren serupa juga terlihat dengan pertumbuhan permintaan EV yang terus berlanjut. Hal ini turut menopang pertumbuhan industri otomotif di sana sepanjang Juni 2026, sementara penjualan mobil bensin dan solar mengalami penurunan tajam.