TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan komoditas energi global menunjukkan tren menurun pada Selasa pagi (9/6/2026) setelah pasar mencermati dengan seksama perkembangan terkini di kawasan Timur Tengah. Pelemahan ini terjadi seiring dengan meredanya gesekan langsung antara Iran dan Israel yang sebelumnya memicu premi risiko geopolitik signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Pada pukul 09.15 WIB, data dari Refinitiv menunjukkan bahwa harga minyak mentah jenis Brent diperdagangkan pada level US$93,64 per barel, menandakan penurunan sebesar 0,65% dari penutupan hari sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami koreksi, terkorensi 0,70% menjadi US$90,66 per barel.
Koreksi harga ini dapat dilihat jika dibandingkan dengan penutupan sehari sebelumnya, di mana Brent ditutup di US$94,25 per barel dan WTI berada di posisi US$91,30 per barel. Penurunan ini mengindikasikan bahwa sebagian kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan mendadak telah berkurang sementara waktu.
Transparansi Kredit: Begini Cara Warga Cek Riwayat Pinjaman Mandiri Tanpa Melalui BI Checking
Meskipun terjadi pelemahan pada pagi ini, perlu dicatat bahwa harga minyak masih bertahan jauh di atas level penutupan pada akhir Mei lalu. Brent tercatat menguat sekitar 1,7% dibandingkan posisi 29 Mei yang masih di angka US$92,05 per barel, menunjukkan tren kenaikan jangka menengah masih dominan.
Kenaikan harga selama beberapa pekan sebelumnya banyak dipicu oleh potensi gangguan pasokan global yang berkorelasi dengan konflik Iran, khususnya kekhawatiran akan hambatan pengiriman energi melalui jalur vital Selat Hormuz. WTI bahkan masih menunjukkan kenaikan hampir 3,8% dari level US$87,36 per barel pada periode yang sama.
Sentimen positif yang mendorong penurunan premi risiko datang setelah adanya pernyataan dari kedua belah pihak, Iran dan Israel, yang mengindikasikan penghentian serangan untuk sementara waktu. Hal ini terjadi setelah adanya seruan langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meredakan situasi.
Pasar sempat dikejutkan oleh serangkaian serangan balasan yang dilakukan kedua negara, yang sebelumnya sempat mendorong lonjakan harga minyak hingga mencapai 5% dalam satu sesi perdagangan saja. Namun, setelah Iran menyatakan gelombang serangan awal telah berakhir dan Israel juga memutuskan menghentikan operasi militernya untuk sementara, kekhawatiran pasar mulai mereda.
"Sentimen terbaru datang dari pernyataan Iran dan Israel yang menyatakan penghentian serangan untuk sementara setelah seruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump," Dikutip dari CNBC Indonesia.
Walaupun eskalasi militer tampak mereda, risiko terhadap pasokan energi global belum sepenuhnya teratasi. Iran masih memberlakukan pembatasan pada sebagian besar aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur krusial yang sebelumnya menampung sekitar seperlima dari perdagangan minyak mentah dan LNG dunia.