TREN.BISNISMARKET.COM - Aktivitas vulkanik signifikan terdeteksi di Laut Bismarck, sebelah utara Papua Nugini, yang berpotensi memicu pembentukan sebuah pulau baru di permukaan laut. Citra satelit yang dikumpulkan sejak awal Mei menunjukkan bahwa letusan gunung api bawah laut ini terus bergerak mendekati permukaan perairan.
Deteksi awal fenomena ini terjadi setelah serangkaian gempa bumi mengguncang dasar Laut Bismarck bagian tengah. Sejak saat itu, berbagai satelit memantau aktivitas vulkanik dari luar angkasa, merekam fenomena seperti semburan uap raksasa dan munculnya rakit batu apung.
Fenomena geologis ini sangat menarik bagi para ilmuwan karena gunung api tersebut berada di area dasar laut yang minim pemetaan geologis. Keterbatasan data ini membuat banyak informasi dasar mengenai gunung api tersebut masih belum diketahui secara pasti.
Tanda-tanda awal letusan tercatat pada 8 Mei ketika seismometer merekam getaran gempa bumi di bawah Laut Bismarck. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kemudian mengonfirmasi bahwa letusan gunung api bawah laut memang sedang berlangsung melalui pengamatan satelit.
Penemuan ini turut menyoroti kurangnya pemahaman mendalam ilmuwan mengenai kawasan dasar laut tersebut. Hingga saat ini, belum tersedia peta rinci yang secara definitif mengidentifikasi gunung api spesifik mana yang menjadi sumber letusan yang terjadi.
Kawasan Laut Bismarck memiliki struktur geologi yang sangat kompleks, ditandai oleh keberadaan patahan, punggungan vulkanik, retakan, dan batas lempeng tektonik aktif. Berdasarkan bukti yang ada, lokasi yang paling mungkin menjadi sumber aktivitas adalah Titan Ridge, pertemuan dua lempeng tektonik bawah laut.
Pada 9 Mei, satelit NASA, Aqua dan Terra, merekam semburan uap putih besar yang mengepul dari permukaan laut. Satelit PACE NASA juga mendeteksi adanya perubahan warna air laut di sekitar lokasi letusan tersebut.
Aktivitas vulkanik semakin mendekati permukaan pada 10 hingga 11 Mei, sebagaimana ditunjukkan oleh citra beresolusi tinggi dari satelit Sentinel-2 ESA dan Landsat 9 NASA/USGS. Pada 12 Mei, satelit Suomi NPP mendeteksi anomali panas yang mencakup area seluas sekitar 7 kilometer persegi.
Vulkanolog dari Michigan Technological University, Simon Carn, menyatakan bahwa sebaran panas yang luas tersebut mengindikasikan material vulkanik bersuhu tinggi sudah berada sangat dekat dengan permukaan laut. "Ia juga menyebut lubang letusan aktif kemungkinan jauh lebih dangkal dibandingkan perkiraan berdasarkan peta dasar laut yang tersedia sebelumnya," ujar Simon Carn.