TREN.BISNISMARKET.COM - Gangguan listrik yang berulang kali terjadi di wilayah Sumatra selama periode Mei hingga Juni lalu telah menegaskan kembali pentingnya mereformasi jaringan ketenagalistrikan Indonesia secara menyeluruh. Reformasi ini sangat krusial untuk meningkatkan ketahanan sistem terhadap berbagai risiko iklim sekaligus memfasilitasi peningkatan porsi energi terbarukan.
Muhammad Ihsan, Analis Energi Terbarukan dari Institute for Essential Services Reform (IESR), menjelaskan bahwa sistem kelistrikan nasional kini berada dalam posisi yang sangat menantang. Tantangan tersebut datang dari ancaman perubahan iklim yang semakin nyata serta kebutuhan mendesak untuk mengakselerasi transisi energi menuju target net zero emission (NZE) pada tahun 2060.
"Ibaratnya, jaringan ketenagalistrikan kita sebagai seseorang yang berada di sandwich generation, sedang menghadapi dua kepentingan yang sama pentingnya," ujar Ihsan saat Webinar "Reformasi Jaringan Listrik Indonesia" pada Selasa (7/7/2026).
Menurut kajian IESR, risiko akibat perubahan iklim bukanlah lagi ancaman di masa depan, melainkan sudah terekspos pada aset ketenagalistrikan, khususnya jaringan transmisi. Pemetaan kerentanan aset menunjukkan bahwa dari tiga komponen utama—pembangkit, gardu induk, dan transmisi—jaringan transmisi adalah yang paling rentan terhadap dampak iklim.
Analisis IESR lebih lanjut menemukan bahwa semakin tinggi tingkat tegangan jaringan transmisi, semakin besar pula tingkat paparannya terhadap risiko lingkungan. Hal ini disebabkan jaringan transmisi bertegangan tinggi memiliki jangkauan wilayah yang luas, melintasi banyak provinsi.
"Kerentanan ini tecermin dari sejumlah insiden yang terjadi di Sumatra dalam 1 dekade terakhir, dengan yang terbaru terjadi pada Mei-Juni kemarin. Berbagai gangguan mulai dari runtuhnya menara transmisi, banjir gardu induk, pemadaman luas hingga kerugian finansial tercatat berulang kali terjadi," jelas Ihsan.
Ihsan menyoroti bahwa beberapa ruas transmisi mengalami gangguan berulang di lokasi yang sama, mengindikasikan bahwa perbaikan yang dilakukan pasca-insiden belum mampu mengatasi akar permasalahan yang mendasarinya. Penyebab utama dari gangguan berulang ini adalah arsitektur jaringan yang masih didominasi oleh single point of failure.
Kondisi single point of failure ini berarti gangguan kecil pada satu titik dapat menyebar dan memicu pemadaman yang jauh lebih meluas pada sistem lain. Selain itu, integrasi energi terbarukan yang kian meningkat menuntut jaringan listrik yang jauh lebih fleksibel dan adaptif daripada konfigurasi sistem saat ini.
Untuk jangka pendek, IESR merekomendasikan pemerintah untuk segera mengevaluasi dan merevisi grid code serta distribution code nasional. Grid code mengatur koneksi pembangkit ke sistem interkoneksi, sementara distribution code mengatur standar operasional jaringan distribusi listrik.