TREN.BISNISMARKET.COM - Tren pasar logam mulia secara umum dinilai masih berada dalam jalur bullish jangka panjang, meskipun terjadi volatilitas dalam jangka pendek saat ini. Hal ini ditegaskan oleh para pakar yang melihat emas tetap menjadi instrumen diversifikasi investasi yang andal.

Doug Moglia, pakar makro dan strategi pasar dari Rockefeller Global Investment Management, menyoroti bahwa performa luar biasa emas didorong oleh kombinasi peningkatan permintaan struktural dan keterbatasan pasokan. Permintaan ini semakin menguat seiring dengan kondisi geopolitik global.

Dilansir dari Suara, lonjakan harga emas ditopang oleh agresivitas bank sentral dunia dan masuknya momentum spekulatif sejak tahun 2025. Faktor ini terjadi bersamaan dengan pelemahan tajam mata uang dolar Amerika Serikat di pasar internasional.

Moglia menyamakan lonjakan harga emas saat ini dengan perubahan rezim finansial terbesar dalam lima dekade terakhir. Perang Rusia-Ukraina dan sanksi terhadap cadangan devisa Rusia menyadarkan otoritas moneter dunia akan kerentanan sistem dolar-euro.

"Logam mulia telah menjadi pemimpin, dengan emas naik 92% dan perak lebih dari dua kali lipat (+152%) sejak awal tahun 2025," ungkap Moglia.

Moglia menjelaskan bahwa dukungan utama harga emas berasal dari pembelian berkelanjutan oleh bank sentral yang meningkat pesat sejak 2022, menyusul sanksi terhadap cadangan devisa Rusia. Namun, tahun 2025 menjadi titik balik karena arus momentum spekulatif ikut melonjak bersamaan dengan pelemahan dolar AS.

"Kami yakin emas memasuki pasar bullish sekuler ketiga pada tahun 2022, analog dengan titik perubahan rezim sebelumnya pada awal tahun 1970-an setelah sistem Bretton Woods runtuh, dan pada pergantian milenium ketika emas muncul sebagai lindung nilai terhadap ketidakstabilan keuangan setelah gelembung teknologi," jelas Moglia.

Gelombang pembelian fisik emas oleh bank sentral global tercatat menembus lebih dari 1.000 ton per tahun selama periode 2022 hingga 2024. Memasuki tahun 2025, permintaan mulai bergeser ke aliran keuangan Barat melalui partisipasi investor ritel dalam ETF.

"Dalam siklus kenaikan pasar saham yang baru ini, katalisnya adalah perang Rusia-Ukraina, dan lebih spesifik lagi, preseden yang ditetapkan oleh sanksi terhadap cadangan devisa Rusia," kata Moglia.