TREN.BISNISMARKET.COM - Harga minyak mentah global jenis Brent kembali menunjukkan tren penurunan, melandai di bawah level US$100 per barel. Penurunan ini terjadi setelah sempat melonjak menyusul eskalasi konflik dan ancaman serangan militer di kawasan Timur Tengah.

Pada hari Jumat lalu, patokan global tersebut tercatat mengalami koreksi sekitar 4%, mengakhiri perdagangan di kisaran US$97 per barel. Ini merupakan pelemahan harian terbesar sejak akhir Juni lalu.

Penurunan harga minyak ini terjadi seiring para pelaku pasar mencerna perkembangan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dilaporkan mengalami kebuntuan. Selain itu, indikator momentum pasar juga mengisyaratkan adanya jeda setelah kenaikan harga minyak yang cukup pesat sebelumnya.

Pergerakan harga semakin dalam setelah munculnya laporan dari Reuters yang menyebutkan Pakistan tengah menjajaki upaya untuk melanjutkan kembali pembicaraan damai antara AS dan Iran yang terhenti.

Di sisi lain, The New York Times memberitakan bahwa Presiden Donald Trump mengadakan pertemuan dengan para penasihat utama dan anggota kabinet seniornya pada Jumat. Pertemuan tersebut membahas opsi peningkatan serangan militer AS terhadap Iran.

Scott Shelton, seorang analis energi di TP ICAP Group Plc, menyatakan bahwa pasar tengah diliputi kecemasan menanti langkah selanjutnya dari Presiden Trump. Ia menambahkan bahwa pasar mengalami trauma akibat posisi long setelah upaya sebelumnya untuk menembus level US$100 pada Brent tidak berhasil.

"Pasar 'kecemasan menanti langkah Trump selanjutnya' dan 'mengalami trauma akibat posisi long setelah upaya sebelumnya untuk menembus level US$100 pada Brent,'" ujar Scott Shelton.

Faktor-faktor teknis juga turut berkontribusi terhadap koreksi harga komoditas ini. Sebelumnya, harga minyak sempat menyentuh angka tiga digit pasca serangan terhadap kapal tanker di Laut Merah.

Para pedagang terlihat beramai-ramai membeli opsi dalam jumlah rekor. Tindakan ini diambil sebagai upaya perlindungan diri dari kemungkinan meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran secara tiba-tiba.