TREN.BISNISMARKET.COM - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami perubahan drastis pada perdagangan hari Kamis, 11 Juni 2026. Setelah sempat menunjukkan penguatan yang signifikan di awal sesi, IHSG tiba-tiba berbalik arah dan masuk ke zona negatif.

Hingga pukul 10.36 WIB, tercatat bahwa IHSG telah terdepresiasi sebesar 1,29%, atau setara dengan 76 poin, sehingga posisinya berada di level 5.826,02. Penurunan ini sekaligus mengakhiri reli positif yang telah dicapai IHSG setelah berhasil ditutup menguat selama dua hari berturut-turut sebelumnya.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa dari total saham yang diperdagangkan, terdapat 212 saham yang berhasil menguat, sementara 454 saham justru mengalami pelemahan, dan 141 saham lainnya bergerak stagnan. Total nilai transaksi tercatat mencapai Rp9,26 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 14 miliar saham melalui 1,13 juta kali transaksi.

Volatilitas harian IHSG pada hari itu masih tergolong tinggi, ditandai dengan capaian level tertinggi di 6.010 (+1,82%) sebelum akhirnya mengalami penurunan signifikan lebih dari 1%. Fenomena ini mengindikasikan adanya aksi jual yang kuat dari para pelaku pasar.

Para investor saat ini tengah mencermati perkembangan sentimen global, termasuk dinamika yang terjadi di pasar keuangan internasional dan bagaimana arus modal asing bergerak. Pada sesi perdagangan hari sebelumnya, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp3,13 triliun di seluruh pasar, meskipun IHSG berhasil ditutup menguat tajam.

Pasar keuangan domestik hari itu masih dihadapkan pada berbagai dinamika, mulai dari ketegangan geopolitik global hingga upaya investor untuk mencermati ketahanan fiskal dalam negeri serta kelanjutan arah makroekonomi secara global.

Kenaikan IHSG dan rupiah yang sedang berlangsung saat ini berpotensi terganggu oleh dua kabar kurang menyenangkan dari Amerika Serikat, yaitu adanya serangan baru oleh militer AS serta data inflasi AS yang menunjukkan lonjakan signifikan.

Perkembangan geopolitik memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan tambahan ke Iran pada hari Rabu, sebagaimana dikonfirmasi oleh pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM). Tindakan ini diklaim sebagai upaya pertahanan diri atas agresi yang dinilai tidak beralasan dan berkelanjutan dari pihak Iran.

Dilansir dari CNBC Indonesia, CENTCOM menyampaikan melalui platform X bahwa militer AS "melancarkan serangan tambahan untuk pertahanan diri pada pukul 17.15 waktu ET terhadap sejumlah target di Iran atas arahan Panglima Tertinggi."