TREN.BISNISMARKET.COM - Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Jumat, 26 Juni 2026, ditutup dengan catatan minor bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG mengalami pelemahan cukup dalam, hampir mencapai ambang batas 2% pada penutupan sesi kedua.

Secara spesifik, koreksi yang terjadi menyebabkan IHSG tergerus sebanyak 103 poin, sehingga harus puas berada di level 5.896,13 pada penutupan perdagangan akhir pekan tersebut. Pelemahan ini terjadi meskipun indeks sempat menunjukkan sinyal positif di awal sesi perdagangan.

Selama pergerakan hari itu, IHSG sempat mencapai titik tertinggi di level 6.045, namun tekanan jual yang masif kemudian mendorong indeks berbalik arah hingga menyentuh level terendah di 5.830. Hal ini mengindikasikan dominasi sentimen negatif di kalangan pelaku pasar.

Tekanan jual terlihat sangat kuat, terbukti dengan distribusi saham yang timpang; sebanyak 562 saham tercatat melemah, berbanding terbalik dengan hanya 123 saham yang berhasil menguat, sementara 129 saham lainnya bergerak relatif stagnan. Dilansir dari CNBC Indonesia, nilai total transaksi mencapai Rp12,73 triliun dari pergerakan 20,79 miliar saham melalui 1,54 juta kali transaksi.

Saham-saham yang paling banyak menarik perhatian dan ramai diperdagangkan pada hari itu meliputi TPIA, BBCA, BMRI, DSSA, dan TLKM. Sementara itu, sektor finansial menjadi satu-satunya sektor yang mampu mencatatkan penguatan di tengah tren pelemahan pasar secara keseluruhan.

Koreksi terdalam dari sisi sektoral dialami oleh sektor utilitas yang anjlok sebesar 6,45%, diikuti oleh sektor barang baku yang terkoreksi 4,67%, serta konsumer non-primer dan properti yang masing-masing turun 2,80% dan 2,26%.

Beberapa emiten besar tercatat menjadi pemberat utama pergerakan IHSG pada hari itu, dengan Barito Renewables Energi (BREN) memberikan kontribusi pelemahan terbesar, yaitu sebesar 11,07 indeks poin. "Emiten yang menjadi pemberat kinerja IHSG adalah Barito Renewables Energi (BREN) dengan porsi pelemahan 11,07 indeks poin," demikian disebutkan dalam analisis tersebut.

Pelemahan IHSG ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik yang terjadi menjelang perdagangan Jumat. Dari sisi global, pasar mencermati menguatnya data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memperkuat sikap hawkish dari The Federal Reserve (The Fed).

Faktor eksternal tersebut diperkuat oleh data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS bulan Mei 2026 yang naik menjadi 4,1% secara tahunan, jauh di atas target The Fed sebesar 2%. "Kombinasi inflasi yang kembali memanas dan ekonomi yang tetap kuat memperbesar peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang berpotensi menopang dolar AS dan menekan aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia," demikian analisis perkembangan global tersebut.