TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia menaruh optimisme besar bahwa sektor kesehatan dapat bertransformasi menjadi salah satu mesin utama penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, dengan target ambisius mencapai 8% pada periode 2028 hingga 2029. Upaya ini difokuskan pada percepatan hilirisasi industri farmasi, pengembangan industri plasma darah, serta integrasi ekosistem kesehatan nasional dengan kawasan ASEAN.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti bahwa meskipun belanja kesehatan Indonesia terus meningkat, bahkan mencapai lebih dari 10% secara historis dan menyentuh 16% pada tahun sebelumnya, manfaat ekonomi domestik yang dihasilkan masih minim. Hal ini disebabkan oleh tingginya ketergantungan pada impor produk kesehatan.

"Semua belanja ini belum tertranslasikan menjadi pertumbuhan ekonomi di sektor kesehatan, karena sebagian besar masih impor. Jadi yang menikmati GDP growth dan job growth itu di negara lain," ujar Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers di Kantor Dewan Ekonomi Nasional pada Rabu, 24 Juni 2026.

Oleh karena itu, fokus utama pemerintah adalah membangun rantai pasok industri kesehatan secara utuh, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Tujuannya adalah memastikan setiap rupiah belanja kesehatan dapat menciptakan nilai tambah domestik, menarik investasi, dan membuka lapangan kerja baru di dalam negeri.

Strategi ini mencakup pembangunan industri bahan baku obat atau active pharmaceutical ingredient (API) serta pengembangan industri biologis yang berbasis pada plasma darah. Sebagai contoh, ketergantungan pada impor bahan baku parasetamol, seperti fenol, akan diatasi meskipun bahan dasarnya, benzena, sudah tersedia di Indonesia.

"Kalau semua rantai produksi atau hilirisasi ini bisa dibikin di Indonesia, belanja yang 12%–13% itu bisa ditranslasikan jadi GDP di sektor kesehatan," katanya, menekankan potensi penguatan ekonomi melalui substitusi impor.

Pemerintah juga tengah mempercepat pembangunan industri fraksionasi plasma darah untuk memproduksi produk vital seperti albumin, immunoglobulin intravena (IVIG), faktor VIII, dan faktor IX, yang selama ini hampir seluruhnya harus diimpor. Pabrik fraksionasi plasma pertama di Karawang, dengan investasi sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun, ditargetkan mulai berproduksi awal 2027.

"Tinggal nunggu izinnya, mudah-mudahan 2027 bisa produksi 600.000 liter. Kita nggak usah impor lagi," ungkap Menteri Budi, mencontohkan bagaimana sumber daya domestik dapat diolah menjadi produk kesehatan bernilai tambah tinggi.

Upaya pengurangan impor API juga menunjukkan progres signifikan; dari yang sebelumnya lebih dari 90%, kini porsinya telah berhasil ditekan menjadi sekitar 70% hingga 80%. Sebanyak 35 jenis API kini sudah berhasil diproduksi di dalam negeri dan akan terus ditingkatkan melalui penyederhanaan regulasi.