TREN.BISNISMARKET.COM - Pasar keuangan domestik Indonesia dilaporkan mengalami tekanan hebat pada Senin (18/5), yang secara langsung memicu peningkatan risiko secara keseluruhan bagi para investor di tanah air. Kondisi ini tercermin dari anjloknya sejumlah indikator ekonomi penting yang menjadi barometer kesehatan pasar.

Berbagai indikator kunci terpantau merosot signifikan, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,85 persen, berada di level 6.599,24. Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) untuk tenor 10 tahun justru mengalami kenaikan hingga mencapai 6,85 persen.

Selain itu, volatilitas juga terlihat pada pasar valuta asing dan pasar utang, ditandai dengan nilai premi credit default swap (CDS) lima tahun Indonesia yang melonjak ke level 89,73 persen. Bersamaan dengan itu, kurs rupiah spot melemah 0,40 persen, menyentuh level Rp17.668 per dolar AS, yang merupakan posisi terburuk sepanjang masa.

Rentetan pelemahan indikator ini menimbulkan kekhawatiran serius, yang kemudian dianalisis oleh para pakar ekonomi sebagai cerminan meningkatnya persepsi risiko terhadap stabilitas pasar keuangan nasional. Dikutip dari Investasi, data pergerakan pasar pada hari tersebut mengonfirmasi adanya tekanan yang signifikan.

"Itu banyak benarnya. Berbagai indikator mutakhir yang disebutkan di atas mengindikasikan peningkatan persepsi risiko atas perekonomian dan pasar keuangan Indonesia," ujar Eddy Junarsin, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Eddy Junarsin menambahkan bahwa pelemahan mata uang rupiah memiliki potensi untuk memperbesar risiko di pasar keuangan, meskipun situasi tersebut masih dapat dikendalikan melalui respons kebijakan yang cepat dari otoritas terkait.

"Potensi itu ada. Namun saya yakin pejabat di BI, Kemenkeu, LPS, OJK dan KSSK memahami persoalan, dapat membaca indikator dan mampu membuat proyeksi yang akurat. Tantangannya adalah implementasi berbagai kebijakan strategis tersebut dalam tempo yang sesingkat-singkatnya," jelas Eddy Junarsin, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia menekankan bahwa Bank Indonesia (BI) memegang peranan krusial dalam menjaga stabilitas dengan mengelola kebijakan suku bunga acuan, sambil menyiapkan langkah penanganan darurat jika kondisi pasar semakin mendesak.

"Pada dasarnya BI itu menghadapi dilema antara inflation management dan atau full employment," kata Eddy Junarsin, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Gadjah Mada (UGM).