TREN.BISNISMARKET.COM - Ratusan pencari kerja dari berbagai latar belakang usia dan tingkat pendidikan memadati Gelanggang Remaja Jakarta Utara (GRJU) pada Rabu (20/5/2026). Bursa kerja Jakarta Job Fair yang berlangsung sejak Selasa (19/5/2026) ini menjadi ajang harapan baru di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat.
Para pelamar kerja yang hadir membawa beragam kisah dan menghadapi hambatan nyata dalam proses rekrutmen yang diselenggarakan. Salah satu keluhan utama yang dirasakan oleh pencari kerja kategori Gen Z adalah minimnya ketersediaan posisi yang benar-benar selaras dengan bidang studi yang mereka tekuni.
Iki (23 tahun), seorang lulusan Teknik Sipil, menyampaikan kesulitannya dalam menemukan lowongan yang sesuai dengan keahlian teknisnya. Setelah mengamati stan perusahaan, ia merasa mayoritas posisi yang ditawarkan justru didominasi oleh bidang penjualan dan pemasaran.
"Saya merasa secara pribadi, latar belakang pendidikan saya tidak ada di sini," ujar Iki mengenai minimnya kesempatan untuk lulusan teknik di bursa kerja tersebut.
Iki sendiri telah bekerja setelah lulus pada tahun 2025, namun ia mengundurkan diri karena ingin mencari karier yang lebih linier dengan ilmu akademisnya. Ia ingin mencoba tantangan baru yang sejalan dengan latar belakang pendidikannya.
Ia juga menekankan pentingnya koneksi atau jaringan dalam proses pencarian kerja saat ini, di mana ijazah saja tidak cukup tanpa implementasi nyata di lapangan. "Kalau buat nyari kerja sih memang agak-agak susah. Terus kalau kita enggak bangun relasi lebih ya memang susah," ucap Iki.
Iki berharap agar semua lulusan baru dapat terserap di sektor industri yang relevan sebagai bentuk penghargaan atas investasi pendidikan tinggi keluarga. Ia khawatir jika kesempatan yang sesuai tidak ada, harapan orang tua akan terbuang sia-sia. "Jangan sampai kita udah kuliah tinggi-tinggi, harapan orang tua yang udah naruh harapan sama kita, jangan sampai terbuang sia-sia aja," ujar Iki.
Sementara itu, tantangan berbeda dihadapi oleh lulusan SMK yang berorientasi langsung mencari kerja guna menopang ekonomi keluarga. Nabil Anis Sofar (19), warga Grogol Petamburan, Jakarta Barat, datang pagi dengan pakaian formal untuk mencari pekerjaan di lokasi tersebut.
Nabil menunda kuliah karena kondisi ekonomi keluarga, dengan sang ayah bekerja sebagai petugas keamanan dan ibunya sebagai petugas kebersihan. Ia bertekad mengumpulkan uang mandiri sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di masa depan. "Dari ekonomi keluarga sih. Faktor utamanya ya. Tapi memang saya juga pengin kerja gitu," ujar Nabil.