TREN.BISNISMARKET.COM - Pada perdagangan hari Rabu, 8 Juli 2026, nilai tukar Rupiah tercatat mengalami pelemahan signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya eskalasi konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data dari Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri sesi perdagangan di zona merah dengan koreksi sebesar 0,11%. Level penutupan Rupiah tercatat berada pada posisi Rp17.990 per Dolar AS pada penutupan hari itu.
Pergerakan Rupiah sejatinya sempat dibuka pada level Rp17.970 per Dolar AS, menunjukkan kondisi yang relatif stagnan dibandingkan penutupan sebelumnya. Namun, sepanjang hari perdagangan, mata uang domestik terus berada di bawah tekanan pasar.
Tekanan pasar tersebut bahkan sempat mendorong Rupiah kembali menembus level psikologis penting, yakni menembus ambang batas Rp18.000 per Dolar AS dalam sesi perdagangan Rabu tersebut.
Sementara itu, pergerakan Dolar AS di pasar global juga menjadi sorotan utama yang memengaruhi dinamika nilai tukar domestik. Indeks Dolar AS (DXY), yang berfungsi mengukur kekuatan mata uang hijau terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melemah 0,07% ke level 100,952 pada pukul 15.00 WIB.
Dinamika pelemahan DXY pada sore hari tersebut terjadi setelah sempat bertahan dalam zona penguatan sejak penutupan perdagangan hari sebelumnya hingga pembukaan sesi perdagangan pagi hari ini. Pergerakan ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi internasional.
Penyebab utama dari volatilitas ini adalah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Amerika Serikat melancarkan serangan balasan terhadap Iran pada Rabu dini hari waktu setempat. Eskalasi ini merupakan respons atas laporan serangan terhadap beberapa kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Gangguan potensial pada jalur pelayaran minyak dan gas paling vital di dunia ini memicu kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan terhadap pasokan energi global dan kenaikan harga minyak lebih lanjut.
Kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi, yang dapat membuat Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) bersikap lebih hati-hati dalam menentukan kebijakan suku bunga ke depan. Pelaku pasar juga tengah menanti risalah rapat The Fed bulan Juni yang akan dirilis pada Kamis dini hari waktu Indonesia.