TREN.BISNISMARKET.COM - Perlombaan teknologi pertahanan global semakin memanas seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia. Dalam konteks ini, perusahaan teknologi pertahanan Amerika Serikat, Anduril, tengah mengembangkan perangkat augmented reality (AR) revolusioner yang bekerja sama dengan raksasa teknologi Meta Platforms.

Perangkat inovatif ini dirancang bukan sekadar untuk tampilan visual biasa, melainkan sebagai sistem kendali medan perang masa depan yang mampu mengintegrasikan prajurit dengan sistem persenjataan otonom. Teknologi ini memungkinkan perintah serangan drone pembunuh dilakukan hanya melalui pelacakan gerakan mata (eye tracking) dan perintah suara (voice command).

Proyek ambisius ini dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Anduril, Quay Barnett, yang merupakan mantan personel Komando Operasi Khusus Angkatan Darat AS. Barnett menjelaskan bahwa inovasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan visi "manusia sebagai sistem senjata," sebuah konsep yang terinspirasi dari ideologi cyborg.

"Tujuan fundamental dari inovasi ini adalah mengoptimalkan visi 'manusia sebagai sistem senjata' yang terinspirasi dari konsep cyborg," ujar Quay Barnett, Dikutip dari MIT Technology Review, Rabu (10/6/2026).

Anduril berupaya menciptakan ekosistem operasi militer yang mulus, di mana prajurit lapangan dan drone dapat berbagi informasi secara instan dan mengeksekusi keputusan taktis tanpa hambatan. Saat ini, Anduril sedang mengerjakan dua proyek utama terkait pengembangan teknologi ini di Amerika Serikat.

Proyek pertama adalah Soldier Born Mission Command (SBMC) milik Angkatan Darat AS, di mana Anduril telah mengamankan kontrak prototipe senilai US$ 159 juta pada tahun 2025. Dalam program ini, mereka memodifikasi headset AR milik Meta agar dapat dipasang langsung pada helm militer standar AS.

Selain itu, Anduril juga mengembangkan proyek mandiri bernama 'EagleEye', yang diumumkan pada Oktober 2025 dan memiliki nilai komersial tinggi. Proyek ini mendesain kombinasi helm dan headset yang terintegrasi penuh, dengan optimisme bahwa militer AS akan mengadopsi inovasi ini secara luas.

Secara teknis, headset tersebut akan menampilkan informasi taktis langsung di bidang pandang prajurit, mulai dari peta navigasi kompleks hingga identifikasi target berbasis Kecerdasan Buatan (AI). Sistem ini didukung oleh Large Language Models (LLM) seperti Gemini Google, Llama Meta, dan Claude Anthropic, yang semuanya diatur oleh perangkat lunak utama Anduril, Lattice.

Angkatan Darat AS telah menunjukkan komitmen anggaran sebesar US$ 20 miliar pada Maret 2025 untuk mengintegrasikan platform Lattice ke dalam infrastruktur mereka secara menyeluruh. Namun, kecanggihan ini juga memunculkan kekhawatiran mengenai potensi beban kognitif bagi prajurit di lapangan.