TREN.BISNISMARKET.COM - Bank Central Asia (BCA) menunjukkan resiliensi yang kuat dalam mengelola kualitas asetnya. Pencapaian ini diraih meskipun sektor perekonomian global masih dibayangi oleh berbagai tantangan dan ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan.

Permasalahan kredit bermasalah menunjukkan tren positif yang signifikan pada periode awal tahun 2026 ini. Indikator utama kesehatan aset bank, yaitu Rasio Loan at Risk (LAR), tercatat mengalami perbaikan yang cukup substansial.

Secara spesifik, perkembangan ini terwujud dalam penurunan angka LAR BCA yang berhasil mencapai level 5,1% pada penutupan Kuartal I tahun 2026. Penurunan ini menjadi capaian penting bagi manajemen risiko bank tersebut.

Penjagaan kualitas aset yang solid ini merupakan bukti dari strategi manajemen risiko yang diterapkan oleh BCA selama periode sebelumnya. Upaya ini bertujuan untuk memitigasi potensi dampak dari gejolak eksternal terhadap neraca keuangan bank.

Kinerja solid ini memperkuat posisi BCA sebagai salah satu institusi perbankan yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kondisi makroekonomi. Hal ini memastikan stabilitas layanan perbankan bagi nasabah.

Dikutip dari sumber, BCA menegaskan bahwa upaya menjaga kualitas aset tetap solid telah membuahkan hasil nyata di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Perbaikan ini adalah cerminan dari ketekunan dalam tata kelola kredit.

Lebih lanjut, mengenai perbaikan Rasio LAR, bank menyatakan bahwa hal tersebut terjadi di tengah berbagai tekanan ekonomi global dan ketidakpastian yang masih menyelimuti kancah geopolitik. "BCA berhasil menjaga kualitas aset tetap solid di tengah tantangan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik," ujar perwakilan BCA.

Hal ini menunjukkan bahwa langkah-langkah proaktif dalam restrukturisasi kredit dan peningkatan underwriting telah memberikan dampak positif yang terukur bagi kesehatan portofolio kredit BCA. Perbaikan ini terlihat jelas pada data kinerja Kuartal I-2026.

Rasio LAR yang berhasil ditekan hingga menyentuh angka 5,1% tersebut menjadi penanda keberhasilan bank dalam mengelola eksposur risiko kredit yang ada. Angka ini menjadi tolok ukur penting bagi para pemangku kepentingan.